Jumat, Mei 23, 2008

KARYA ROH KUDUS DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Alkitab Perjanjian Lama dan Alkitab Perjanjian Baru merekam keberadaan dan pekerjaan Roh Kudus. Meskipun ada perbedaan dalam intensitas manifestasi, namun perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan dasar asumsi bahwa ajaran Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama mengenai Roh Kudus bertentangan. Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama bergerak mengarah ke depan ke jaman gereja Perjanjian Baru, dan puncaknya pada kesempurnaan gereja di akhir jaman. Itulah sebabnya Roh Kudus hadir dan bekerja selaras dengan rencana Allah Bapa untuk dunia ini, dan memanifestasikan diri dalam kehendak-Nya sesuai konteks keberadaan manusia.

Text Box: “Semakin meluasnya pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru membuktikan apa yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama digenapi”Alkitab Perjanjian Lama maupun Alkitab Perjanjian Baru memberikan bukti tentang pekerjaan Roh Kudus yang berinteraksi dengan manusia. Roh Kudus selaku pribadi Allah yang kekal tetap ada dan terus bekerja sebelum dan sesudah hari Pentakosta.[1] Keberadaan Roh Kudus tetap dilihat sebagai pribadi yang tidak mungkin dipisahkan dengan Allah Bapa dalam Tritunggal. Pembahasan yang akan dilakukan berikut ini tidak mempergunakan metode menginventarisir ayat-ayat yang berhubungan dengan Roh Kudus menurut pengelompokkan kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, melainkan menguraikan pekerjaan apa saja yang telah dilakukan Roh Kudus.

Mempelajari karya Roh Kudus sama pentingnya dengan mempelajari karya keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus, sebab Roh Kudus hadir dan berkarya menindaklanjuti pekerjaan Yesus pasca kebangkitan. Harun Hadiwijono memberikan pernyataan bahwa:

“Demikian juga Roh Kudus dapat disamakan dengan Kristus, Anak Allah, dilihat dari segi ini, bahwa Roh itu adalah Kristus yang hadir berbuat untuk menjadikan orang-orang milikNya menikmati hasil karya penyelamatanNya.” [2]

Penegasan Yesus tentang kenaikan-Nya ke sorga bertalian erat dengan turunnya Roh Kudus (Yohanes 14:26; 16:7-15). Yesus mengatakan hanya melalui karya Roh Kudus akan dapat diketahui kebenaran yang sesungguhnya. Dan ada banyak hal yang akan diberitahukan oleh Roh Kudus, dan para murid akan mampu menerima semuanya manakala Roh Kudus turun berada di tengah gereja. Fakta yang tidak mungkin diingkari, kedua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru tidak ditulis semasa Yesus berada di bumi, melainkan setelah turunnya Roh Kudus di atas loteng Yerusalem.


A. Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama

Jika melihat intensitas karya Roh Kudus maka lebih banyak didapati dalam Perjanjian Baru daripada dalam Perjanjian Lama. Perbedaan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan para ahli memutuskan mengenai Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sesungguhnya berbeda dengan Roh Kudus di dalam Perjanjian Baru. Pendapat semacam itu sesungguhnya sangat tidak adil, dimana kesamaan yang besar diabaikan hanya karena perbedaan yang kecil. Prinsipnya, Roh Kudus sebagai Pribadi nampak dalam karya-Nya, sebaliknya karya-Nya menunjukkan Roh Kudus adalah sebagai Pribadi. Keduanya tidak mungkin dipisahkan atau dipertentangkan. Perjanjian Lama mencatat kehadiran Roh Kudus yang dinyatakan dalam pekerjaan-Nya diantaranya adalah:

A.1. Penciptaan alam semesta

Jagad raya dengan keteraturan serta sistem yang rumit dan akurat bagi ilmu sekuler dianggap masuk akal jika keberadaannya dikarenakan akibat suatu ledakan yang kebetulan. Apa justru tidak lebih masuk akal jikalau dikatakan keberadaan dan keteraturan jagad raya ini diciptakan oleh Pribadi Yang Maha Jenius? Seperti seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dalam kebingungan sepulang sekolah. Ia menemui ayahnya untuk meminta penjelasan soal terjadinya bumi apakah akibat ledakan besar yang terjadi karena kebetulan, atau diciptakan oleh Allah seperti yang diajarkan di Sekolah Minggu. Ayahnya meminta sekaleng kelereng yang dimiliki anaknya dengan mengatakan “Nak, jika kelereng ini ditebarkan di lantai mungkinkah kelereng-kelereng ini akan mengelompok secara kebetulan sesuai warnanya masing-masing?” Anaknya yang cerdas menjawab “Itu tidak mungkin terjadi ayah”. Ayahnya menanyakan kembali “Berapa kalipun dicoba apakah tidak mungkin?”, Dan anaknya menjawab “Ya”. Lalu ayahnya bertanya lagi “Menurutmu bagaimana cara supaya kelereng-kelereng tersebut berkelompok sesuai warnanya?” Anaknya menjawab “Ya harus ada yang mengelompokkannya” Selanjutnya sang ayah menegaskan “Begitupun dengan dunia kita yang indah dan dasyat ini tidak terjadi secara kebetulan, semuanya diciptakan oleh Allah yang Maha Kuasa dan dasyat itu nak”. Dalam kisah di atas membuktikan sebenarnya lebih masuk akal jika bumi ini diciptakan oleh Pribadi yang Maha Jenius daripada terjadi karena suatu peristiwa kebetulan. Alkitab mencatat langit dan bumi diciptakan oleh Allah, dan pada saat penciptaan tersebut Roh Kudus ikut berperan serta (Kejadian 1:1-2). Robert Davidson menerangkan bahwa:

“Roh Allah adalah Allah sendiri yang dengan kuasa-kuasa sedang bertindak di dalam dunia. Roh yang sama pada mulanya “melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:1) untuk menerbitkan ketertiban dari dalam kekacauan dan sampai sekarang masih terus bekerja membaharui karunia, berupa kehidupan pada segala mahluk hidup.”[3]

Roh Kudus mengadakan penataan untuk menjadikan segala sesuatu harmonis (Ayub 26:13; Yesaya 40:12, 13), dan Ia juga memberikan kehidupan (Mazmur 33:6; 104:30).

A.2. Mengontrol kehidupan

Kejadian 1:1-3 menyatakan pada saat Allah menciptakan dan mengadakan penataan langit dan bumi, Roh Kudus ikut berperan aktif. Peran aktif Roh Kudus selaku Pribadi yang melakukan fungsinya ditunjukkan di ayat 2 dalam kalimat “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Artinya Roh Kudus mengadakan perubahan dari samudera yang gelap menjadi kawasan yang jelas perbedaan-perbedaannya.[4] Stanley M. Horton memberikan penegasan dengan menulis sebagai berikut:

“Jadi, Roh Kudus dihubungkan baik dengan ciptaan maupun dengan pemeliharaan selanjutnya oleh Allah (lihat Yesaya 40:12,13). Bagian-bagian lain yang berkenaan dengan Roh Kudus juga menggunakan istilah yang menunjukkan nafas Allah (Ayub 26:13; 33:4; Mazmur 33:6).”[5]

Penulis Perjanjian Lama dalam menggambarkan dinamika Roh Kudus mempergunakan ungkapan “melayang-layang”, “meninggal- kan”, “memenuhi”, ”menguasai”, ”menghinggapi” hendak menunjukkan peran aktif Roh Kudus dalam kelangsungan kehidupan. Baik kehidupan dalam kepentingan yang lebih luas maupun yang bersifat pribadi.

Roh Kudus senantiasa memberikan tuntunan sebagaimana diyakini oleh penulis Kitab Mazmur (Mazmur 143:10), bahwa seseorang mendapatkan kekuatan serta berhasil dalam melaksanakan tanggung jawabnya karena Roh Kuduslah yang menolongnya untuk mencapai tujuan (Bilangan 11:16, 17 ).

A.3. Memberikan karunia untuk tugas tertentu

Ketika Musa membangun Kemah Pertemuan, ia memilih orang-orang yang oleh Roh Kudus telah dikaruniai keahlian, pengertian dan pengetahuan untuk membuat segala perlengkapannya (Keluaran 31:3; 28:3). Hal memilih orang-orang ini sangat penting mengingat bangsa (Israel) yang keluar dari Mesir hanya memiliki pengalaman sebagai budak. Hubungan karunia dengan pelaksanaan tugas Stanley M. Horton menulis :

“Kepenuhan dengan Roh ini akan menjadi sumber “keahlian, pengertian, dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan.” Dengan kata lain, Roh Kudus akan memberikan pertolongan adikodrati dalam melaksanakan tugas-tugas praktis untuk menyiapkan bahan-bahan Kemah Suci yang akan berguna lagi indah.”[6]

Roh Kudus memberikan keterampilan dan wibawa untuk melaksanakan tugas kepemimpinan (Bilangan 11:16,17). Roh Kudus juga memberikan kemampuan kepada seseorang untuk mengolah strategi guna mengalahkan musuh dalam peperangan (Hakim-hakim 3:10).

A.4. Menciptakan moralitas yang benar

Roh Kudus tidak dapat mentolerir segala bentuk kenajisan atau dosa yang dilakukan seseorang, karena hakekat Roh Kudus sendiri adalah kudus (Kejadian 6:1-8). Roh Kudus akan menghardik dan memberikan hukuman kepada segala macam bentuk pelanggaran terhadap firman Allah. Roh Kudus juga mendidik serta memberikan bimbingan terhadap umat Allah bagaimana seharusnya hidup didalam ketaatan kepada Tuhan (Yesaya 11:5; Yehezkiel 36:27; Nehemia 9:20). Harun Hadiwijono menyatakan:

“Akhirnya, Roh yang dinamis itu mengandung di dalamnya sifat-sifat yang etis. Hal ini terang dari Yes 30:1, yang mengancam dengan hukuman para anak yang murtad, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan oleh dorongan Roh Tuhan. Jadi Roh Allah yang dinamis tadi memang adalah kekuatan atau kekuasaan yang menciptakan hal-hal yang baru, yang ditujukan kepada tujuan keagamaan.”[7]

A.5. Mengilhami para nabi

Pada saat menyampaikan berita untuk umat Allah para nabi menerima materi berita melalui Roh Kudus, dan bukan hasil rekayasa dari dirinya sendiri (Yesaya 42:1). Raja Daud meyakini apa yang dikatakan melalui mulutnya datang melalui pewahyuan Roh Kudus (2 Samuel 23:2). Nabi Yoel juga meyakini serta menubuatkan bahwa firman Allah akan datang dijaman yang kemudian, diberikan dengan cara melalui mimpi, penglihatan dan nubuatan yang diilhami Roh Kudus (Yoel 2:28, 29). Stanley M. Horton menulis:

“Sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh, para nabi yang terutama menulis Kitab Suci (kita akui bahwa Musa adalah seorang nabi sama seperti Daud). … Demikian pula Roh Kudus yang mengilhamkan perkataan dan tulisan Yesaya (59:21).”[8]

Tulisan para nabi yang diilhamkan Roh Kudus diakui oleh Yesus dan juga para Rasul baik dengan penggenapan nubuatannya (Matius 22:42,43; Kisah Para Rasul 2:15-28) maupun sebagai dasar pengajaran (Kisah Para Rasul 28:25-29).

A.6. Menubuatkan kedatangan Mesias.

Roh Kudus menyampaikan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang, tentang kedatangan Mesias melalui nubuatan yang disampaikan para nabi (Yesaya 61:1, 2). Misi kedatangan Mesias ke dunia memberikan keselamatan serta kesejahteraan umat manusia yang terbelenggu dan diperbudak dosa (Yesaya 11:1-10). Tugas Kemesiasan yang disampaikan para nabi melalui nubuatan dalam ilham Roh Kudus sebenarnya yang dimaksud adalah Yesus Kristus sendiri.[9] Nabi Maleakhi menubuatkan kedatangan Mesias terlebih dahulu akan diawali kedatangan Nabi Elia dalam rangka merintis jalan mempersiapkan kehadiran Mesias (Maleakhi 4:5,6).

Konsep Mesianik datang dari Roh Kudus melalui nubuatan para nabi yang dipercayai dan ditunggu-tunggu penggenapannya oleh bangsa Yahudi. Seiring berjalannya waktu serta pasang surut perkembangan politik bangsa Yahudi, konsep kedatangan Mesias akhirnya dipahami secara politis.

A.7. Memberi kemampuan yang luar biasa

Seseorang dapat memiliki kekuatan yang luar biasa diatas rata-rata manusia pada umumnya karena Roh Kudus menyertainya. Kekuatan yang luar biasa dari Roh Kudus hanya sebagai sarana untuk melaksanakan misi Allah.[10] Stanley M. Horton berpendapat tentang kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh para tokoh dalam Perjanjian Lama sebagai berikut:

“Bahkan orang yang dipilih Allah untuk menolong dan membebaskan bangsa itu tidak sama sekali bebas dari kelemahan zaman itu. Tetapi Roh Allah bekerja; kadang kala Roh bekerja meskipun mereka ada kelemahan. Sebenarnya, kelihatannya Allah memilih orang-orang yang tidak penting dan tidak terkenal sehingga dapat melihat bahwa kuasa itu berasal dari Allah dan bukan dari manusia.”[11]

Sebut saja seperti dalam Hakim-hakim 14:6 Simson dengan mudah mencabik-cabik seekor singa tanpa melukai tangannya sedikitpun, dan juga beberapa tindakan spektakuler lainnya sebagai nasir Allah. Daniel memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal akal budi dan hikmat, dan pada jamannya di tengah-tengah bangsa kafir ia dikenal penuh roh para dewa yang kudus (Daniel 4:8; 5:10-12). Mikha menyatakan Roh Kudus dapat memberikan kekuatan, dan tentu saja bukanlah kekuatan yang biasa-biasa (Mikha 3:8).

Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama cakupannya sangat luas sebagai perwujudan karya Allah yang tetap peduli dengan ciptaan-Nya. Hal itu turut membuktikan peran Roh Kudus sebagai Pribadi dalam ke-Tritunggalan Allah.


B. Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru

Perjanjian Baru dibuka dengan karya Roh Kudus melalui peristiwa Maria yang mengandung untuk melahirkan Yesus Kristus dalam rangka menggenapi nubuatan yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Lama. Selain di keempat Injil, eksistensi serta pekerjaan Roh Kudus dicatat semakin meningkat intensitasnya dalam kitab Perjanjian Baru yang lain. Luasnya karya Roh Kudus dengan berbagai cara yang dilakukan-Nya dalam Perjanjian Lama sangatlah luar biasa, dan tidaklah mengherankan bila hal serupa terdapat dalam Perjanjian Baru.[12]

B.1. Mengadakan pemulihan

Seseorang diselamatkan bukan hasil dari usaha pekerjaan baiknya dalam bentuk amal kesalehan, melainkan melalui imannya kepada Yesus Kristus. Roh Kudus berperan mengadakan pembaruan status orang percaya di hadapan Allah dari yang dulunya sebagai budak dosa telah diadopsi sebagai anak Allah (Yohanes 1:12; Titus 3:5; Roma 8:15). Dalam hal ini Chris Marantika menulis:

“Pengertian teologis untuk istilah ini ialah bahwa setiap orang yang bertobat dari dosa-dosanya dan beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya yang berarti telah lahir baru, diangkat oleh Allah menjadi anggota keluarga-Nya dan berhak mewarisi Kerajaan Allah bersama orang-orang beriman lainnya.”[13]

Kelahiran baru berhubungan dengan perubahan status yang sebelumnya ditempatkan sebagai pemberontak menjadi ahli waris Kerajaan Allah. Dengan perkataan lain, perubahan status seseorang dapat terjadi karena ia telah mengalami kemerdekaan, dan oleh karya Roh Kudus kehidupannya dipulihkan menjadi serupa dengan gambar-Nya (Roma 8:2; 2 Korintus 3:17, 18; 2 Tesalonika 2:13)

B.2. Membimbing

Kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya dinyatakan dalam pekerjaan Roh Kudus yang memberikan bimbingan kepada orang percaya. Roh Kudus memberikan hikmat kepada seseorang agar dapat memahami sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui akal pikiran biasa (1 Korintus 2:13). Senada dengan itu Millad J. Erickson menjelaskan:

“Karunia-karunia Roh Kudus diberikan dalam kata-kata yang diajarkan didaktoi~ oleh Roh dan bukan oleh hikmat manusia (2:13). Dari semua pertimbangan ini, tampaklah bahwa Paulus tidak mengatakan orang-orang yang tidak rohani itu mengerti tetapi tidak menerima. Sebaliknya, orang-orang yang tidak rohani itu tidak menerima, setidak-tidaknya sebagian, karena mereka tidak mengerti.”[14]

Bahkan dalam 1 Yohanes 2:27 ditegaskan betapa pentingnya urapan atau pencerahan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mengerti firman Allah, sampai-sampai penulis Surat Yohanes menggunakan kalimat “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.”

Seseorang dapat memiliki kearifan dengan cara mengharapkan dan meminta pertolongan Roh Kudus.[15] Sebab Roh Kudus mampu memimpin dan mengajar untuk memberikan pemahaman terhadap seluruh kebenaran, Ia juga mampu membimbing seseorang bagaimana seharusnya menyampaikan argumentasi mengenai kebenaran (Lukas 12:12; Yohanes 16:13,14; Markus 13:11).

B.3. Memberi karunia dalam pelayanan

Setiap orang yang dipanggil dan ditetapkan dalam pelayanan dilengkapi oleh Roh Kudus dengan karunia sesuai kebutuhan dalam rangka pembangunan tubuh Kristus (Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:7-11). Orang yang dipanggil dalam pelayanan tidak diukur menurut kesanggupan manusiawi yang terbatas, melainkan menurut ukuran pembekalan Roh Kudus yang melimpah.[16] Paul Yonggi Cho menyatakan bahwa:

“Bila ada suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk Allah, karunia-karunia Roh Kudus diberikan kepada berbagai orang percaya di dalam gereja, tubuhNya. Ini menyanggupkan orang-orang percaya untuk menyelesaikan pekerjaanNya dan tanggung jawabNya secara berhasil-guna dan pekerjaan itu berkembang karena adanya karunia-karunia Roh Kudus.”[17]

Dengan demikian karunia yang diterima oleh seseorang bukanlah diperuntukkan bagi kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan perluasan Kerajaan Allah[18] (Band. dengan Kisah Para Rasul 1:8). Jadi efektifitas pelayanan sangat tergantung kepada karunia Roh Kudus dan motivasi pelayanan yang bertujuan untuk membangun tubuh Kristus.

B.4. Membawa hidup dalam kekudusan

Rasul Paulus menghubungkan hidup dalam Roh yang terjadi dalam diri seseorang dengan kemampuan yang diterima dari Roh untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging (Roma 8:9-13). Kekudusan dihubungkan dengan mematikan perbuatan daging dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas moral yang benar. Dalam hal ini Bruce Milne menulis:

“Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa tidak mungkin memisahkan krisis pembaruan dari perubahan moral yang menyusul. Menurut istilah teologi, pembenaran … tidak dapat dipisahkan dari pengudusan (proses perubahan moral sepanjang hidup untuk lebih mendekati citra Kristus).”[19]

Paulus menjelaskan kepada jemaat di Galatia tentang hidup oleh Roh dengan ditandai tidak hidup menurut keinginan daging. Perbuatan daging yang dimaksudkan adalah percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5:11-21). Roh Kudus menolong orang percaya melepaskan diri dari ikatan perbuatan daging dan memimpinnya untuk hidup dalam kekudusan.

B.5. Mengilhamkan penulisan Kitab Suci

Bertitik tolak dari penjelasan Yesus Kristus tentang Roh Kudus (Yohanes 14:26 dan 16:13), bahwa Roh Kudus-lah yang akan mengajar apa yang difirmankan Yesus, dan memberitahukan hal-hal yang akan datang, maka peran Roh Kudus dalam penulisan Kitab Suci menjadi sangat penting.

Rasul Petrus dan Rasul Paulus mempercayai otoritas Roh Kudus dalam memberikan pengilhaman untuk terwujudnya penulisan Alkitab (2 Petrus 1:21; 2 Timotius 3:16). Karena dorongan untuk menulis berasal dari Roh Kudus, para pembaca harus memperhatikan nubuatan sebagai firman Allah. [20] Tentang peran Roh Kudus dalam pengilhaman Kitab Suci Henry C. Thiessen memberi penegasan bahwa:

“Para Rasul menyatakan bahwa mereka telah menerima Roh ini (Kisah 2:4; 9:17; 1 Korintus 2:10-12; 7:40; Yakobus 4:5; 1 Yohanes 3:24; Yudas 19) dan bahwa mereka berbicara karena dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; 1 Korintus 2:13; 14:37; Galatia 1:1, 12; 1 Tesalonika 2:13; 4:2, 8; 1 Petrus 1:12; 1 Yohanes 5:10-11; Wahyu 21:5; 22:6, 18-19). Jadi dapat dikatakan bahwa Tuhan Yesus sendiri menjamin pengilhaman Perjajian Baru.”[21]

B.6. Menindaklanjuti pelayanan Yesus Kristus

Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus bertujuan menindaklanjuti karya penebusan terhadap orang berdosa yang telah dikerjakan-Nya dengan cara menginsafkan dan menjelaskan kebenaran akan adanya penghakiman di akhir jaman (Yohanes 16:7, 8). Harun Hadiwijono menyatakan hubungan Roh Kudus dengan Yesus Kristus sebagai berikut:

“Jadi ada hubungan yang erat sekali di antara karya Kristus sebagai Anak Allah dan karya Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi atau daya ilahi. Hubungan itu demikian eratnya, hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus (1 Ptr. 1:11). Kristus mendatangi para orang milikNya di dalam Roh dan di dalam Roh itulah Ia bersama-sama dengan mereka.”[22]

Bahkan sebelum naik ke sorga Yesus Kristus menyampaikan wasiat tentang Roh Kudus yang akan memberikan dinamika pekabaran Injil (Kisah Para Rasul 1:8).

B.7. Memberi kuasa

Saat menyampaikan argumentasi mengenai asal-usul kuasa yang dipakai-Nya untuk mengusir Setan, Tuhan Yesus mengakui Roh Kudus-lah yang memberi-Nya kuasa (Matius 12:28). Rasul Paulus juga mengakui dalam menyusun strategi pekabaran Injil ia mempergunakan cara mendemontrasikan kuasa di dalam kekuatan Roh Kudus (1 Korintus 2:4, NIV). Hal itu dibuktikan Rasul Paulus pada saat ia mempergunakan otoritas Roh Kudus untuk menghardik tukang sihir, dan menjadikannya buta dalam beberapa hari (Kisah Para Rasul 13:9-12; 1 Yohanes 4:4). Mengenai Roh Kudus yang mampu memberikan kuasa James I. Packer menyatakan:

“Kedatangan Kristus, Sang Juruselamat, telah membawa pencurahan Roh Kudus kepada Gereja dan dunia. Roh Kudus datang dengan kuasa. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat kuasa ini diwujudkan di dalam semua cara yang disebut di atas: kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan dan kemampuan untuk mengatasi pencobaan, dan kemampuan memenangkan orang lain melalui pemberitaan firman Tuhan dan kesaksian, dan kemampuan untuk bertindak sebagai saluran kuasa Allah dalam berbagai mujizat, penyembuhan, dan lain sebagainya.”[23]

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus hadir secara berkesinambungan ditengah kehidupan manusia yang dapat dilihat dalam karya-Nya, dan dapat dirasakan kehadiran-Nya sebagai Pribadi. Kesimpulan lain yang bisa didapat Roh Kudus yang berkarya dalam Perjanjian Lama tidak lain Roh Kudus yang sama seperti didalam Perjanjian Baru. Hanya saja dalam Perjanjian Baru intensitas kehadiran dan karya Roh Kudus lebih banyak jumlahnya. Beberapa perbedaan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru pada dasarnya tidaklah sebanding dengan banyaknya kesamaan yang prinsipil. Oleh karena itu rasanya tidak adil apabila penilaian dijatuhkan dengan hanya bertumpu pada perbedaan yang kecil, bahwa Roh Kudus dalam Perjanjian Lama berbeda dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.


[1] J.R.W.Stott, Kedaulatan Dan Karya Kristus, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1991, hal. 93

[2] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1984, hal., 131.

[3] Robert Davidson, Alkitab Berbicara, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 19886, hal. 7.

[4] Donald Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000, hal. 80.

[5] Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hal. 15.

[6]Ibid, hal. 23.

[7] Harun Hadiwijono. Op.Cit., hal. 114.

[8] Stanley M. Horton, Op.Cit., hal. 74.

[9] J.D.Douglas (Penyunting), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1996, hal. 57.

[10] Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal. 116.

[11] Stanley M. Horton, Op.Cit., hal. 33.

[12] Donald Gutrie, Op.Cit., hal. 142.

[13] Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani, Iman Press, Yogyakarta, 2002, hal.. 126-127.

[14] Millard J. Erickson, Teologi Kristen, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1999, hal, 323.

[15] Ibid, hal. 190.

[16] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran Panduan Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, hal. 286.

[17] Paul Yonggi Cho, Roh Kudus, Adimitra Saya, Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2000, hal. 147.

[18] Leon Morris, Teologia Perjanjian Baru, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996, hal. 104.

[19]Bruce Milne, Op. Cit., hal. 267.

[20] Millard J. Erickson, Op.Cit., hal. 258.

[21] Henry Clarence Thiessen, Teologia Sistimatika, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1995, hal. 105.

[22] Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal. 130-131.

[23] J.I. Packer,dkk., Kebutuhan Gereja Saat Ini Kerajaan allah dan Kuasa-Nya, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hal. 254-255.

Tidak ada komentar: