Rabu, September 23, 2009

TEOLOGI PENTAKOSTA

(Sebuah Pengantar ke dalam Teologi Pentakosta)


PENDAHULUAN

Sebelum kita masuk ke dalam ajaran Pentakosta , ada baiknya apabila penulis membahas latar belakang aliran Pentakosta. Di kalangan sejarah gerakan Pentakosta terdapat perbedaan pendapat tentang asal-usul gerakan ini, yaitu:
1. Charles W. Conn berpendapat bahwa asal mula gerakan ini terjadi pada tahun 1896 di Shearer School House di Cherokee County, North Carolina, yang mana ini merupakan cikal bakal dari lahirnya Church of God.
2. Klaude Kendrick berpendapat bahwa gerakan ini berasal dari Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas yang dipimpin oleh Charles Parham.
3. Donald Gee mengemukakan bahwa asal mula gerakan Pentakosta terjadi pada pertemuan di “Gereja Tua” di Los Angeles pada 6 April 1906, di mana William Seymour (murid Charles Parham) berkhotbah tentang ‘bahasa lidah’.

Pada umumnya para ahli Pentakosta menyebutkan bahwa ajaran Pentakosta terdiri dari empat pilar , yaitu: Keselamatan, Kesembuhan, Baptisan Roh Kudus, dan Kedatangan Kristus Kedua Kali, yang mana pembahasan ini penulis jabarkan dalam 11 pokok dalam alur sistematika.


AJARAN-AJARAN PANTEKOSTA

Sama seperti aliran Kesucian, gerakan Pantekosta tidak merasa bahwa mereka telah menciptakan suatu doktrin atau standar yang baru. Dengan mengkhotbahkan 'Injil Sepenuh', mereka merasa bahwa mereka hanya menekankan kembali ajaran lama yang sudah ada. Di bawah dijelaskan beberapa pengajaran Pentakosta, yaitu:

1. Alkitab
Alkitab dpahami sebagai Firman Allah yang diilhamkan dan dinyatakan kepada manusia, untuk menjadi tata-tertib bagi iman dan perilaku. Alkitab mengungguli hati nurani dan akal baudi, tetapi tidak bertentangan dengannya. Sebagai yang diilhamkan langsung oleh Allah, Alkitab tidak mengandung kesalahan. Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas dan sempurna.

2. Allah yang benar dan hidup itu oleh aliran Pentakostal diyakini sebagai Allah yang esa, yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Allah yang menyatakan diri di dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ke dalam ketiga nama inilah dibaptis setiap orang yang sudah menyatakan imannya. Jadi aliran Protestan memiliki kepercayaan sama dengan kaum reformasi.

3. Keselamatan adalah pembebasan dari situasi di luar kemampuan seseorang membebaskan dirinya sendiri. Keselamatan adalah karya Allah dalam pengupayaan umat bebas dari perbudakan dosa dan membawa ke situasi kemuliaan melalui Yesus Kristus. Jadi keselamatan sebagai buah kasih-karunia Allah, yang ditawarkan kepada manusia melalui pemberitaan dan ajakan menyatakan penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah, dan iman kepada Yesus Kristus. Manusia diselamatkan melalui baptisan (permandian) kelahiran-kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus. Setelah dibenarkan oleh kasih-karunia melalui iman, menjadi anak dan pewaris Kerajaan Allah, sesuai dengan pengharapan akan kehidupan kekal. Bukti batiniah bagi orang percaya tentang keselamatannya adalah kesaksian langsung dari Roh Kudus, sedangkan bukti lahiriah adalah kehidupan di dalam kebenaran dan kesucian yang sejati.

4. Baptisan adalah tindakan iman untukmelaksanakan percaya kepada Injil yaitu bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa manusia, sesuai dengan kitab suci, bahwa Ia dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga sesuai dengan kitab suci (1 Kor 15:3a-4; Rom 6:3-5). Baptisan terdiri atas dua jenis, yaitu: Pertama, baptisan air, yakni lambang kematian dan penguburan kemanusian yang lama, dengan cara menyelamkan seluruh tubuh ke dalam air (Mat 16:15-16; 28:19). Kedua, Baptisan Roh adalah baptisan orang percaya dengan Roh kudus dibuktikan oleh tanda fisik awal, yaitu berbicara dengan bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh Kudus kepada mereka untuk mengatakannya (Kis 2:4). Roh Kudus menjadi pusat teologi dari aliran Pentakosta.
5. Bahasa Lidah: baptisan atas orang percaya di dalam Roh Kudus diawali dan disaksikan oleh tanda lahiriah berupa berbicara dalam lida (bahasa) lain, sebagaimana kemampuan yang diberikan Allah kepada para rasul (Kis 2:4). Berbahasa lidah dalam nats ini pada hakikatnya sama dengan karunmia lidah dalam 1 Kor 12:4-10, 28, tetapi berbeda dalam maksud dan penggunaannya.

6. Perjamuan Kudus, yang terdiri dari unsur roti dan air buah anggur , adalah lambang yang mengungkapkan keikutsertaan di dalam kodrat ilahi dari Tuhan Yesus, pengenangan atas penderitaan dan kematian-Nya dan nubuat atas kedatangan kedua kali, persekutuan orang percaya dengan Allah serta sesama, kesembuhan bisa terjadi sewaktu orang percaya mengambil bagian dalam perjamuan kudus dimana Allah yang menyembuhkannya, dan sakramen Perjamuan Kudus sebagai salah satu alat anugerah Allah bagi orang percaya. Dengan Perjamuan Kudus maka anugerah dan karya Allah lewat korban Yesus di kayu salib akan lebih kita kenang dan hayati, sehingga pengaktualisasian iman kepada Allah akan lebih berarti.

7. Kesucian hidup dan perilaku secara menyeluruh. Kaum Pentakostal mempertahankan kesucian sebagi pokok ajaran yang terpenting. Dengan kuasa Roh Kudus orang percaya dapat menaati perintah Allah. Kesucian menyeluruh adalah kehendak Allah bagi semua orang percaya, dan harus sungguh dikejar dengan cara berjalan di dalam ketaatan pada firman Allah.

8. Kesembuhan Ilahi. Pada permulaan gerakan Pantekosta, doktrin kesembuhan Ilahi adalah suatu kebenaran yang sangat penting dalam berita "Injil Sepenuh". Kesembuhan Ilahi dikhotbahkan dan dipraktekkan, sebab umat Pentakosta percaya bahwa kesembuhan disediakan bersamaan penebusan dan merupakan hak istimewa bagi orang percaya.

9. Eskatologis. Pada umumnya kaum Pentakosta mempercayai bahwa Yesus Kristus akan datang kembali dan memerintah dalam kerajaan seribu tahun di dunia. Kedatangan Kristus yang kedua kali meliputi pengangkatan orang-orang kudus, yang merupakan pengharapan yang penuh bahagia bagi kita, diikuti kedatangan yang tampak dari Kristus dengan orang suci-Nya untuk memerintah di bumi selama seribu tahun (Za 14:5; Mat 24:27, 30; Why 1:7; 19:11-14). Pemerintahan seribu tahun ini akan membawa keselamatan bangsa Israel (Yeh 37:21-22; Zef 3:19-20; Roma 11:26-27) dan penegakkan damai sejahtera di seluruh dunia (Yes 11:6-9; Mi 4:3-4).

10. Gereja bukan hanya merupakan suatu perkumpulan melainkan sebuah persekutuan yang lahir dari Allah. Alkitab menyatakan bahwa yang mendirikan gereja adalah Tuhan Yesus (Mat 16:18). Gereja adalah buah tangan pekerjaan Roh Kudus dan diyakini sebagai tubuh Kristus, tempat Allah berdiam melalui Roh-Nya, dengan serangkaian ketetapan ilahi dalam rangka memenuhi amanat agung-Nya.

11. Ibadah dan liturgy: gereja-gereja Pentakosta beribadah secara teratur pada hari Minggu, ditambah dengan beberapa pertemuan ibadah pada hari lainnya. Tata-ibadah bersifat lisan serta tidak berlangsung secara baku. Kendati tata-ibadah bersifat lisan dan tidak baku, ada semacam pola dan unsur-unsur yang umum, yaitu doa pembuka, nyanyian penyembahan, doa lanjutan, nyanyian pujian, khotbah, serta kadang ditambah pelayanan altar (altar calling, altar service). Yang terakhir ini memberi kesempatan untuk mengungkapkan pelepasan dari kuasa roh jahat, pertobatan, penguatan rohani, pengurapan, pemulihan, dan lainnya.


KESIMPULAN

Jadi beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah Pertama, aliran Pantekosta sama dengan denominasi Protestan lainnya; percaya bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan oleh perbuatan baik yang dilakukan manusia; percaya bahwa setiap orang Kristen adalah Imam-imam; percaya bahwa Alkitab atau Firman Allah adalah dasar segala doktrin dari gereja. Kedua, gerakan Pantekosta ini sesungguhnya sama dengan gerakan Reformasi. Tetapi lebih tepatnya adalah sayap kiri Reformasi yang lebih bersifat radikal, yaitu gerakan Ana-Baptis. Ketiga, aliran Pantekosta dapat digolongkan sebagai kelanjutan dari kaum Injili (Evangelicals). Teologianya cenderung fundamentalis. Tokoh Pantekosta dari Inggris, Donald Gee berkata bahwa doktrin Pantekosta sebenarnya merupakan penyempurnaan dari doktrin kaum Injili. Keempat, Banyak ahli sejarah gerakan Pantekosta berpendapat bahwa gerakan Pantekosta timbul dari aliran 'Holiness", terkenal "Doktrin Penyucian" (Sanctification). Teologia Wesley dapat disimpulkan: pertobatan atau pembenaran; dan Penyucian dan penyempurnaan Kristen. Kelemahan yang timbul dari fenomena gerakan Pentakosta adalah kurang dalam konteks penelitian Alkitab, bersifat emosional, dan penataan organisasi di gereja.




DAFTAR PUSTAKA


1. Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran Di dalam dan Di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. 1, 1995.
2. Arrington, French L., Christian Doctrine 2: A Pentecostal Perspektive, Clevelend, Tennessee: Pathway, cet. 1, 1993.
3. Arrington, French L., Christian Doctrine 3: A Pentecostal Perspektive, Clevelend, Tennessee: Pathway, cet. 1, 1993.
4. Duty, Guy, Keselamatan Bersyarat atau Tanpa Syarat?Keselamatan Bersyarat atau Tanpa Syarat?, Diterjemahkan: Peter Suwadi, Ibrahim Karuniamulia, Lily Tanudjaja, Surabaya: Bukit Zaitun, cet. 1, 1996.
5. Gee, Donald, The Pentecostal Movement, London: Victory Press, 1949.
6. Lukito, Daniel Lukas, Pengantar Teologia Kristen 1, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, cet. 3, 1996.
7. Menzies, William W., Horton, Stanley M., Doktrin Alkitab: Menurut Pandangan Pentakosta, Malang: Gandum Mas, cet. 2, 2003.
8. Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia, Jakarta: Departemen Teologia Badan Pekerja Sinode Gereja Bethel Indonesia, cet. 1, hlm. 100.
9. Setiawan, Johanes, Teologi Gerak: Ajaran Roh Kudus Menurut DR. H. L. Senduk, Jakarta: Lembaga Pendidikan Theologia Bethel, cet. 1
10. Stronstad, Roger, Theology Karismatik Santo Lukas, Jakarta: Karismata Publishers, cet. 1, 1999.
11. Talumewo, Steven H., Sejarah Gerakan Pantekosta, Yogyakarta: Yayasan Andi Offset, cet. 1, 1988.

13 komentar:

Anonim mengatakan...

Landasan berpikir menentukan arah dalam menafsir sebuah pandangan.
Thanks for all. Tulisannya memberkati saya.

Anonim mengatakan...

Sampai saat ini saya belum mendapatkan pengertian yang jelasa mengenai point Baptisan Roh dalam kalimat anda yaitu

"Baptisan Roh adalah baptisan orang percaya dengan Roh kudus dibuktikan oleh tanda fisik awal, yaitu berbicara dengan bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh Kudus kepada mereka untuk mengatakannya (Kis 2:4)."

Ketidakjelasan saya adalah apakah pasti kalau seseorang dibaptis RK maka sebagai tandanya dia akan bicara bahasa baru (dalam hal ini kebanyakan orang pantekosata mengatakan bahasa Roh, walaupun yang dicatat dalam Kis 2 bukan bahasa Roh yang seperti saat ini).

Pertanyaan saya 'Mungkinkah seseorang dibaptis RK tapi tdk berbicara bahasa Roh ?' Haruskah seseorang yg dibaptis RK akan berbahasa ROh walaupun sekali seumur hidup sepanjang yg saya ketahui ada banyak sekali orang Kristen baik awam maupun Hamba Tuhan yg seumur hidupnya tidak berbahasa Roh walaupun satu kali. Apakah dengan demikian mereka belum dibaptis RK sampai mereka mati ?

Terimakasih untuk jawaban dan penjelasannya.

Salam

Bobby Kurnia Putrawan mengatakan...

Dalam sepanjang tulisan Perjanjian Baru tidak ada yang menjelaskan bahwa seseorang yang dibaptis Roh Kudus pasti berbahasa Roh seperti dalam gereja-gereja Pentakosta.

Bahasa Roh merupakan karunia yang diberikan oleh Allah, dimana karunia dalam setiap orang percaya berbeda-beda. Jadi hal ini menunjukkan kepelbedaan dalam tubuh Kristus yang bekerja sesuai dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Baiknya disini orang yang mendapatkan karunia berbahasa Roh tidak menghakimi bahwa mereka yang tidak berbahasa Roh tidak ada Roh Kudus/belum dibaptis Roh Kudus, karena Tuhan memberikan karunia-karunianya berbeda dalam setiap umatNya. Bukankah karunia-karunia Roh bertujuan untuk pelayanan dalam gereja, untuk membangun dan menguatkan satu sama lain, seperti apa yang Paulus katakan.

Yang menjadi masalah adalah apakah Bahasa-bahasa yang dilakukan dalam umaKristen sekarang ini adalah dari Allah. Memang banyak dalam umat Kristen yang berbahasa roh yang bukan/tidak berasal dari Allah. Mereka berbahasa dengan mengikuti dari Pendetanya/pemimpim pujian dalam ibadah. Hal ini biasanya terjadi di gereja-gereja kalangan Pentakosta-Karismatik.
Tetapi, kita dapat menghakimi secara menyeluruh bahwa bahasa Roh yang dilakukan dalam gereja-gereja kalangan Pentakosta bukan/tidak berasal dari Allah. Masih perlu penjelasan dan penafsiran lebih lanjut, dimana hal ini masih dalam fenomena perdebatan teologi dari hasil penafsiran yang berbeda.

Menurut saya, apabila beranjak dari Kis. 2:4, maka pengertian "bahasa Roh/bahasa dari Roh" di sini adalah bahasa lain, bahasa-bahasa bukan dari Yahudi/Israel, maksudnya adalah bahasa yang ada di dunia ini (Kis. 2:8-11). Tetapi jika beranjak dari 1 Korintus 13:1 - 14:40, maka pengertian bahas Rohasa Roh/bahasa dari Roh ada 2, yaitu bahasa manusia dan bahasa malaikat. Implikasinya adalah apakah bahasa malaikat seperti yang dilakukan dalam kalangan gereja Pentakosta/Karismatik? kita jangan terburu-buru menjawab ya/tidak.
Semua perlu diuji, seperti yang dikatakan oleh Paulus. Jawabannya: ya, apabila itu berasal dari Allah, tidak, jika itu berasal dari dirinya sendiri/orang lain (pendeta, atau lainnya).
Kita juga memahami bahwa ada teologi yang mengatakan bahwa karunia-karunia Allah sudah tidak ada lagi pasca jaman para Rasul. Tapi, teologi seperti ini juga perlu diuji lebih jauh. Semoga tulisna ini memberkati.

Fides Quaerens Intellectum.

Bobby Kurnia Putrawan mengatakan...

Untuk pendalaman dapat dilihat dalam tulisan saya bulan Oktober 2010 tentang Baptis. Thanks

Anonim mengatakan...

'Mungkinkah seseorang dibaptis RK tapi tdk berbicara bahasa Roh ?' Haruskah seseorang yg dibaptis RK akan berbahasa ROh walaupun sekali seumur hidup sepanjang yg saya ketahui ada banyak sekali orang Kristen baik awam maupun Hamba Tuhan yg seumur hidupnya tidak berbahasa Roh walaupun satu kali. Apakah dengan demikian mereka belum dibaptis RK sampai mereka mati ?

Pertanyaan di atas juga pertanyaan saya yang sampai saat ini belum dijawab dengan tegas. Saya dari gereja yang punya pengakuan iman demikian, tapi saya belum pernah satu kalipun berbahasa roh (lain), dan masih banyak sekali yang seperti saya. Mungkinkah kami belum dibaptis RK, jawaban yang tegas antara Ya dan Tidak belum pernah diberikan.

Mohon jawaban yang singkat dari orang awam ini supaya tidak bimbang. Terima kasih.

Bobby Putrawan mengatakan...

Apa yang dimaksud dg "bahasa Roh"? Jika bahasa Roh yg dimaksud spt kalangan Pentakosta/Karismatik, maka seseorang yang dibaptis Roh Kudus dimungkinkan tidak berbicara bahasa Roh. "Bahasa Roh" adalah salah satu karunia dari Allah dan Allah memberikan karunia-Nya kepada setiap umat bisa berbeda seturut kehenda-Nya dan membangun tubuh Kristus. Ada yang mendapat karunia bahasa Roh, karunia menafsirkan bahasa Roh, karunia nubuat, dll.
Ini sekaligus dapat menjawab pertanyaan kedua.
Semoga dapat berguna dan membantu.

Anonim mengatakan...

Kalau Baptisan dan bahasa roh seperti itu kenapa hal.itu tdk ada di gereja gereja yg didirikan para Rasul seperti gereja katolik atau ortodok?padahal gereja gereja tsb didirikan oleh tangan para rasul sendiri.mereka tdk merubah apapun bahkan gereja gereja ortodok masih menggunakan istilah salat dlm ibadah mereka.termasuk 7waktu sehari.dimana bhs roh tersebut mestinya muncul dlm liturgi gereja gereja tsb?

Anonim mengatakan...

Kenapa yang RASUL saja tidak bisa menjelaskan nya... Maanusia yang yang BUKAN RASUL.. banyak yang sok tau...

Jangan jadi seperti Ahli-ahli taurat yang munafik... yang tau firman tapi melakukannya hanya untuk mendapat pujian orang lain...

Anonim mengatakan...

saya ingin bertanya apakah dalam agama pentakosta sangat dilarang kah untuk menikahi seorang wanita yang berbeda kenyakinan, karna saya sangat mencintai dia dan ingin mepersatukan cinta kami. mohon pencerahan nya trima kasih sebelum nya

Anonim mengatakan...

Menikah berbeda keyakinan dilarang, terimakasih :) Gbu

chris papilaya mengatakan...

Bahasa Roh tidak begitu penting untuk dibahas, sudah jelas, apa yang terjadi pada hari pentakosta termasuk baptisan Roh hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terjadi lagi, hanya khusus jatuh pada hari pentakosta. Apakah ada Rasul Tuhan yang mengatakan kalau kita harus bisa berbahasa Roh atau Di baptis oleh Roh? Kalau ini penting? Kenapa Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan tentang hal ini? Berarti memang tidak penting. Tuhan Yesus mengatakan didalam kis para rasul 1 kalau kita akan menerima Roh Kudus ketika Dia tidak ada lagi di dunia ini.

chris papilaya mengatakan...

Jadi kenapa hal ini dijadikan doktrin? Didalam 1 kor 14 1-25 pun sudah sangat jelas, kalau bahasa Roh itu tidak penting, lebih penting penjelasan tentang firman Tuhan supaya bisa membangun jemaat, dimananya yg kurang jelas lagi?

chris papilaya mengatakan...

15 tahun saya berada dibawah ajaran pentakosta-karismatik, yang menurut saya menyesatkan cara hidup saya. Ketika saya sakit dan hilang pekerjaan mereka mengatakan 'dosa apa yg telah anda lakukan?' Ketika saya tdk berbahasa Roh, mrk mengatakan 'anda tidak suci hidupnya' ketika saya berbeda pandang tentang Roh kudus, mrk mengatakan 'jangan menghujat Roh Kudus' Saya merasa benar2 hidup didalam suatu jeratan/perangkap. Kini saya sudah mengerti setelah menyelidiki kebenaran firman. Hidup saya benar2 sudah dipulihkan ketika saya keluar dari ajaran pentakosta-karismatik ini.