Minggu, Juni 08, 2008

PEMELIHARAAN ALLAH DAN ATURAN PENCIPTAAN

Setelah enam hari Penciptaan, “Berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya” (Kej. 2:2). Allah berhenti tidak berarti bahwa Allah berbaring dan tidur, meninggalkan ciptaan untuk mempedulikan diri-Nya sendiri dan tidak mengendalikan ciptaan-Nya. Kata berhenti/beristirahat (sabat) berarti “berhenti”. Pada hari ketujuh Allah berhenti dari karya kreatif-Nya dan menyenangi kebaikan dari segala yang diciptakan-Nya. Hari perhentian tidak seperti enam hari lainnya. Tidak ada batas antara petang dan pagi. Kesenangan Allah terhadap dunia yang Ia ciptakan tidak ada akhirnya. Allah terus menopang dan mengendalikan alam semesta. Jika Ia menarik diri sekalipun sekejap saja, alam semesta akan terjatuh ke dalam ketiadaan (lih. Kol. 1:17). Pemeliharaan Allah dan pengendalian alam semesta secara tradisional dirujukkan sebagai pemeliharaan-Nya, secara harfiah berarti Ia memandang ke muka dan merencanakan lebih jauh. Jadi sang Pencipta adalah Allah yang mengatur, menopang, dan memelihara penciptaan.

Pembekalan Allah dilihat dalam tatanan alam semesta, proses alam tentang kehidupan, dan pembentangan sejarah. Pada saat penciptaan, Allah memberi setiap makhluk kuasa bereproduksi. Umat Israel memahami sejarah mereka karena panggilan keras Allah kepada Abraham. Di gunung Moria, Abraham mendapati bahwa Allah adalah Ia yang menyediakan, karena di sana Allah menyediakan anak domba untuk korban bakaran pengganti Ishak (Kej. 22:13). Abraham menamakan tempat itu “Tuhan Menyediakan”. Pembekalan ilahi anak domba telah menjamin para penganut Pentakostal dan orang-orang Kristen lainnya mengenai perhatian dan pemeliharaan Allah yang tetap.

Bagi para penganut Pentakostal, Allah bukan sebagai tuan tanah yang tidak hadir di tempat, tetapi sebagai Dia yang secara pribadi memperhatikan ciptaan-Nya. Seperti pada masa Alkitab, para penganut Pentakostal mengharapkan kehadiran dan pemeliharaan Allah terwujud tidak hanya dalam perhatian umum terhadap penciptaan tetapi juga secara khusus dalam bimbingan dan karya Roh Kudus. Jadi para penganut Pentakostal melihat hubungan langsung antara kehadiran pemeliharaan Allah pada masa Alkitab dengan abad ke-20. Allah berkarya saat ini sama dengan yang dilakukan-Nya pada masa bapa-bapa gereja dan para rasul.

Pemeliharaan Allah perlu dipertimbangkan melalui tiga judul: dunia alam, sejarah, dan penderitaan.

Melalui Firman Allah, Kristus yang kekal, dunia dijadikan (Yoh. 1:13); Allah “… menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3), dan dalam Kristus segala sesuatu ada di dalam Dia (Kol. 1:17). Allah memberi dunia alam ini hal mengatur (organisasi) dan hukum-hukum. Dampaknya, ada tatanan dan kemantapan dalam penciptaan. Dalam ukuran yang lebih luas, kita hidup dalam dunia yang dapat diandalkan, di mana musim-musim muncul dengan teratur, di mana terjadi revolusi bersinambung di bumi yang mengelilingi matahari, dan di mana binatang serta tumbuh-tumbuhan hidup dengan mantap. Tatanan dan keberaturan adalah sifat Allah Pencipta.

Pemazmur menyatakan, “Betapa banyak perbuatan-Mua, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan” (Mzm. 104:24). Dunia telah tertata sebab sang Pencipta memelihara semua yang dibuat-Nya. Menyadari hal ini secara mendalam, orang-orangLewi memuji Allah, katanya, “Hanya Engkau adalah Tuhan! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya … “ (Neh. 9:6). Karena kemantapan kuasa topangan Allah, sifat umum dan jalannya dunia alam ini dapat diramalkan. Dunia tidaklah ditutup sang Pencipta. Setiap saat Allah menjunjung dunia; karenanya, Ia berada dengan dan memimpin ciptaan sehingga dunia melayani kehendak-Nya. Pemeliharaan Allah mengingatkan kita mengenai kesetiaan dan kebijakan-Nya dalam memelihara ciptaan.

A. Kesetiaan Allah dalam Memelihara Tatanan Alam

Dunia alam yang mantap dan dapat diandalkan mengungkapkan sesuatu mengenai kesetiaan Allah yang hidup. Tatanan dan stabilitas dunia adalah sesuatu yang kita harapkan. Keberaturan alam ini bergantung sepenuhnya pada kehadiran dan kesetiaan Allah. Setelah peristiwa banjir Allah berkata, “Selama bumi ini masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam” (Kej. 8:22). Yeremia mengungkapkan janji Allah dengan siang dan malam, dan berkata untuk Tuhan, “Aku tidak akan menetapkan perjanjian-Ku dengan siang dan malam dan aturan langit dan bumi, maka juga Aku pasti akan menolak keturunan Yakub dan hamba-Ku Daud …” (Yer. 33:25,26).

Allah telah mengatur batas-batas segala sesuatu. Tatanan yang berlaku di dunia menunjuk kepada kebaikan dan kesetiaan Allah (lih. Kis. 17:22-30; Rm. 1:18-23). Seperti kata Paulus, “… namun Ia bukan menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu” (Kis. 14:17). Allah demikian menata dunia dan kehidupan sehingga kita mempunyai kepercayaan menjalani aktivitas sehari-hari serta membuat rencana-rencana untuk hari depan. Kita hidup dalam dunia yang bergantung – dunia di mana Pencipta setia memelihara tatanan sehingga hidup itu bermakna dan berada dalam ketertiban. Mata biasa bisa menghargai tatanan dunia dan bahkan secara samar-samar memamhami pemeliharaan ilahi, tetapi pemahaman yang tepat tentang pemeliharaan haruslah berakar dalam penyataan ilahi, yang dicatat dalam Alkitab dan ditegaskan melalui pengalaman iman.

B. Kesetiaan Allah dalam Pemeliharaan Makhluk

Sebagaimana diajarkan dalam Alkitab, pemeliharaan Allah tidak berpokok pada keberuntungan atau nasib. Burung pipit “… tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat. 10:29). Memang, jika Allah memimpin penerbangan burung-burung, maka kita harus didorong mengakui bersama pemazmur “Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi” (Mzm. 113:5,6). Luar biasa kesetiaan Allah dalam memelihara dan menopang setiap makhluk-Nya, terutama laki-laki dan perempuan. Allah menyediakan untuk ikan-ikan dan burung-burung dan menopang segala sesuatu dalam kekhususan masing-masing. Alkitab menjamin bahwa Allah memelihara “manusia dan binatang buas” (Mzm. 36:6). Tetapi Yesus berkata bahwa kita “lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat. 10:31). Seluruh kehidupan itu mantap dan sangat dipelihara oleh kuasa Allah.

Mari kita bercermin pada keberadaan jasmani kita sendiri yang menakjubkan. Jantung mulai berdetak sebelum kelahiran dan terus berlangsung sampai mati. Darah beredar melalui tubuh dan membawa darah merah dan darah putih yang sangat vital bagi kehidupan. Darah merah dibawa ke paru-paru, mengambil oksigen. Ini terjadi setiap saat, tetapi tanpa ada usaha dari kita sendiri. Sungguh, luar biasa bahwa kita tetap hidup. Sumbernya tidak lain adalah: Allah yang hidup, yang memberi kita nafas dan yang memampukan jantung kita memelihara detak kehidupannya. Hidup sendiri menyaksikan kesetiaan Allah. Kita tidak akan pernah berhenti memuji-Nya atas pemberian kehidupan.

Allah kita bukan Allah yang bermalas-malasan. Ia selalu melibatkan diri-Nya dalam pemeliharaan makhluk-makhluk-Nya dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebaikan Allah yang tidak pernah gagal diungkapkan dengan sangat indah oleh ucapan pemazmur, “… Engkau memberi mereka makanan pada waktunya. Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup” (Mzm. 145:15,16). Perhatian Allah tertuju pada semua orang, karena Yesus menyatakan bahwa Allah “… menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45). Dengan jaminan pemeliharaan Allah yang tidak pernah gagal kita bisa hidup bebas dari rasa kuatir, terutama jika mengenal-Nya sebagai Bapa sorgawi kita. Seperti kata Yesus, Bapa mengetahui apa yang kita butuhkan. Karena Ia memelihara burung-burung di udara dan bunga-bunga di padang, jelas kita tidak perlu diliputi kekuatiran mengenai kebutuhan hidup kita (lih. Mat. 6:25-34).

Yesus berkata, “… carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Kita bisa dijamin bahwa Allah, yang telah mengaruniakan karunia terbesar, Anak-Nya sendiri, tidak akan menyembunyikan berkat-berkat-Nya. Allah yang kaya menyediakan kebutuhan spiritual kita dalam Kristus, dan “… bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:32). Janji tidak berarti kita tidak mengalami bahaya dan kebinasaan (Rm. 8:35-39), tetapi dasar kemenangan kita ada di Kalvari. Allah adalah pelindung dan pembuat sejarah bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Walaupun Paulus mengalami banyak kemalangan, ia mengakui bahwa pemeliharaan ilahi melindunginya dari kejahatan bagi mereka yang menjadi milik Kristus. Menitikberatkan kebenaran ini, ia menulis: “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat”(2 Tes. 3:3). Banyak orang percaya mengenal melalui pengalaman bahwa Allah melindungi umat-Nya – dari kejahatan dan Setan.

C. Kesetiaan Allah terhadap Pembaruan Ciptaan

Kesinambungan karya Allah ditunjukkan oleh pembaruan ciptaan yang mantap. Alkitab merujuk langsung kepada aspek-aspek pemeliharaan ilahi dan memberi perhatian khusus terhadap pembaruan ciptaan oleh Roh Kudus. Karya Roh Kudus tidak membatasi pengalaman Kristen tentang kelahiran baru, pengkudusan, dan penguatan pelayanan. Pelayanan Roh mencakup lebih dari hal-hal tersebut. Sejak semula Roh Kudus membawa tatanan dan kehidupan kepada ciptaan, dan Roh terus melaksanakan pemeliharaan atasnya. Dalam Mazmur 104:30 kita dapatkan rujukan tentang pemeliharaan Allah dan pembaruan ciptaan, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”. Pemazmur menegaskan karya kreatif Roh secara umum; tetapi Roh juga berbicara tentang pembaruan, yang terbukti jelas di dunia, khususnya di musim semi. Yesaya mengakui kuasa Roh Kudus untuk membarui dan merubah dunia material: “Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan” (Yes. 32:15). Jelas pasal ini merujuk kepada pembaruan spiritual dan pencurahan Roh pada hari Pentakosta.

Meskipun demikian, hal itu mengingatkan kita bahwa pertumbuhan luar biasa pada dunia tumbuh-tumbuhan juga akibat dari karya Roh Kudus.

Roh Kudus itu vital bagi pemeliharaan dan pembaruan alam. Pencurahan Roh memberi kuasa dan pembaruan di bidang spritual. Demikian juga penopangan dan pembaruan alam sangat terkait dengan Roh Kudus. Keindahan ciptaan, tumbuh-tumbuhan di sisi arus yang mengalir, bunga-bunga di musim gugur, cakrawala setiap hari di angkasa – semua ini merupakan kesaksian terhadap pemeliharaan sang Pencipta dan kesinambungan karya Roh Kudus di dalam alam.

Pemeliharaan dan Sejarah

Allah yang hidup adalah Tuhan dari segala wacana sejarah. Karena aturan Tuhan maka ada tatanan dalam sejarah seperti halnya dalam alam. Dari semula Allah telah menuntun sejarah untuk menyempurnakan maksud-Nya. Dan Ia telah mengendalikan sejarah sementara Ia memberi kita kebebasan memilih. Ia ingin agar kita bebas, dengan kemampuan memilih antara yang baik dan yang jahat. Sehubungan dengan kebaikan pemeliharaan Allah, ternyata Adam dan Hawa menyalahgunakan kebebasan mereka dengan tidak menaati Allah. Sejak itu, dosa dan pemberontakan berkembang di dunia. Meskipun demikian Allah tidak berhenti menjadi Tuhan atas segalanya.

Seperti yang diceritakan dalam Alkitab, jelas bahwa sejarah berlanjut sesuai rencana Allah dan para nabi-Nya mampu meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Sejarah umat Israel ada dalam tangan Allah. Bangsa Israel berawal dengan panggilan Allah kepada Abraham. Perbudakan mereka di Mesir berakhir dengan berbagai mujizat pembebasan dan sesudah itu pernjanjian di Sinai. Setelah satu generasi berada di padang gurun, mereka menetap di Kanaan. Mereka tinggal di tanah di bawah pimpinan para hakim dan kemudian di bawah para raja. Selanjutnya mereka dibuang di Asiria dan Babilonia, dan kemudian sekelompok orang-orang pembuangan kembali ke tanah air mereka. Bimbingan pemeliharaan Allah terhadap sejarah Israel menyatakan anugerah-Nya dan penghakimannya.

Pusat perhatian Perjanjian Llama adalah terhadap bangsa Israel. Tetapi nasib bangsa-bangsa lain juga ada di tangan Allah. Kel. 9:13-17 mengisahkan Allah berhubungan dengan Mesir ketika Firaun menolak membebaskan Israel dari perbudakan. Daniel 8 dan 11 meramalkan adanya empat kerajaan di mana kerajaan Aleksander Agung kelak akan terbagi. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa sejarah berlanjut seperti rencana ilahi. Allah memimpin peristiwa-peristiwa dunia karena Ia mengendalikan sejarah. Individu-individu telah menyalahgunakan dan masih terus menyalahgunakan kebebasan mereka, tetapi sehubungan dengan perbuatan salah manusia ini, Allah mengesampingkannya dan Ia menggenapi rencana ilahi-Nya untuk dunia (lih. Kej. 50:20).

Allah telah menunjukkan diri-Nya yang memperhatikan kehidupan dan sejarah umat manusia. Dengan sangat meyakini kenyataan ini, Paulus mengatakan bahwa “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka” (Kis. 17:26). Bukan karena suatu peluang bahwa bangsa-bangsa telah dibangkitkan dan orang-orang tersebar ke seluruh muka bumi. Allah telah memberikan bumi kepada manusia untuk rumahnya dan telah menunjuk lokasi untuk ditempati masing-masing bangsa. Tujuan pemeliharaan Allah terhadap umat dan bangsa-bangsa adalah “… supaya mereka mencari Dia … dan menemukan Dia” (ay. 27). Adalah keinginan-Nya bahwa seluruh umat datang untuk mengenal Dia.

Haruslah ditekankan bahwa Allah memperhatikan untuk seluruh umat. Menurut Alkitab, Israel memperoleh tempat khusus dalam tujuan keselamatan Allah bagi dunia, tetapi pilihan Allah terhadap Israel tidak mengecualikan bangsa-bangsa lain dari maksud-Nya. Allah bertanya melalui nabi Amos, “Bukankah Aku telah menuntun orang israel keluar dari tanah Mesir, orang Filistin dari Kaftor, dan orang Aram dari Kir?” (Am. 9:7). Perjanjian Lama mengajarkan bahwa arah sejarah Israel memperoleh perhatian kuat dari Allah. Dan Ia adalah Tuhan atas seluruh sejarah – Tuhan orang-orang Filistin, Siria, dan bangsa-bangsa lain. Ia juga memperhatikan mereka dan mengarahkan nasib mereka.

Alkitab menyatakan bahwa pemeliharaan Allah membimbing umat dan bangsa-bangsa. Pemeliharaan ilahi tidak menyangkali kebebasan berbuat dan kuasa memilih yang baik dan yang jahat. Perjumpaan mendalam antara kebebasan manusia dan pemeliharaan ilahi tidak pernah sedahsyat yang diwujudkan dalam kematian Yesus Kristus. Ucapan Petrus yang sangat berkuasa di hari Pentakosta menyatakan bahwa kematian Yesus adalah tanggung jawab langsung umat Yahudi, tetapi itu terjadi menurut rencana Allah. Yesus Kristus “… yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23), kata Petrus. Bangsa-bangsa durhaka telah berbuat jahat dengan membunuh Kristus, tetapi Allah tidak melakukan kejahatan, dan Ia tidak akan melakukan-Nya. Orang-orang seperti Herodes dan Pilatus, juga orang-orang Yahudi, bersalah karena pembunuhan kejam terhadap Yesus. Tetapi, mereka juga secara bebas memenuhi rencana Allah. Melalui kuasa agung-Nya Allah menjadikan salib sebagai sarana Ia menyelamatkan kita.

Penyaliban Tuhan Yesus menghadapkan kita dengan misteri rencana ilahi yang digenapi dalam dan melalui peristiwa-peristiwa manusia. Di salib sejenak Allah membuka tirai di depan mata kita, yang memberi kita penglihatan ke dalam misteri mendalam tentang pemerintahan-Nya dalam sejarah. Kristus Kalvari adalah “… Anak Domba yang telah disembelih” (Why. 13:8). Dalam kematian-Nya sang Penebus mewujudkan kesetiaan dan pemeliharaan sang Pencipta.

Dalam Perjanjian Baru pemeliharaan Allah mempunyai makna penting untuk kehidupan Kristen. Maksud Allah yang ilahi adalah mengutus Kristus untuk menyelamatkan kita melalui-Nya (lih. Ef. 3:11). Keberhasilan karya penyelamatan-Nya telah ditentukan dulu oleh Allah dan pasti. Juga, Allah menuntut kita oleh Firman-Nya dan Roh agar menerima karya anugerah penebusan-Nya dalam Kristus. Elamatan yang tepat itu menuntut tanggapan kita – tanggapan iman. Sisi ilahi dan sisi manusia tentang keselamatan harus dipegang dengan tepat. Membicarakan sisi ilahi, Paulus menulis, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:13). Tetapi dari sisi manusia ia berkata, “… kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar …” (ay. 12). Secara sederhana ucapan tersebut mengatakan bahwa keselamatan adalah dari Allah, tetapi kita juga dikehendaki untuk berusaha dengan mantap mengejar kehidupan Kristen.

Pemeliharaan ilahi tidak akan menarik kebebasan kita. Bagi mereka yang percaya dalam anugerah-Nya, pemerintahan Allah di dunia adalah sumber pengharapan dan penghiburan mereka dalam seluruh pengalaman hidup. Paulus menyimpulkan pandangan Kristen tentang pemeliharaan ilahi dengan menyatakan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Jadi Ia mengutus Roh Kudus menjadi penerus kehadiran Allah dengan kita. Kita hidup di abad Pentakosta, di mana Allah beserta kita melalui kehadiran Roh-Nya yang berkuasa, bahkan hingga akhir dunia.

Sebagaimana sejarah bergerak menuju kedatangan Kristus yang kedua, Allah terus berkarya bersama dengan segala sesuatu untuk kebaikan. Di tengah kehadiran kejahatan, serangan Setan, dan penderitaan di dunia, Allah tetap memegang kendali. Tetapi pemerintahan Allah di dunia adalah misteri yang dapat ditembus hanya dengan bersandar pada Alkitab dan Roh Kudus yang memberi wawasan tentang maksud ilahi. Kkepastian penggenapan rencana Allah dalam sejarah dinyatakan secara empatik oleh Paulus:

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya … Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 8:33,36).

Betapa tidak terbatasnya sumber hikmat dan kuasa Allah. Sepanjang sejarah dunia, dari Penciptaan sampai penyempurnaan akhir, Allah memerintah dalam sejarah dan yang akhirnya membawa Ciptaan-Nya mencapai tujuannya.

Pemeliharaan dan Penderitaan

Umat Kristen Pentakostal menegaskan bahwa Allah itu baik, tetapi sama seperti yang lain, mereka hidup di dunia yang menderita. Alkitab mengemukakan realitas penderitaan dan kejahatan. Beberapa orang mencari penyelesaian masalah ini dengan optimisme yang tidak terkendali, yakni bahwa tidak ada kesengsaraan, sakit, dan kejahatan. Pemeliharaan ilahi tidak berarti bahwa karena Allah telah menyediakan maka yang ada hanyalah kebahagiaan dan ketenteraman di bumi. Dengan berpura-pura bahwa kejahatan tidak ada tidak memindahkan kesulitan-kesulitan yang diciptakan oleh kehadiran kejahatan itu. Praktik kuasa berpikir positif (positive thinking) tidak merubah kejahatan menjadi baik. Menolak mengenal kejahatan dan penderitaan tidak menghasilkan apa pun untuk perkembangan kehidupan.

Ajaran Alkitab mengenai doktrin pemeliharaan itu sangat realistis. Pemeliharaan tidak menyangkal adanya penderitaan pada orang-orang benar (Mzm. 34:19). Gembala yang Baik mempersilakan domba-domba-Nya pergi melewati lembah bayang-bayang maut dan kesusahan (Mzm. 23:4). Umat Kristen memandang ke depan ke langit dan bumi baru, tetapi Alkitab mengakui bahwa pencobaan dan kesengsaraan adalah keadaan buruk dunia hingga akhir zaman. Sebelum peperangan akhir antara Allah dan kuasa-kuasa kejahatan, akan terjadi peperangan dan kabar-kabar tentang perang, bangsa melawan bangsa, kelaparan, wabah, gempa bumi, kedukaan, kesengsaraan, serta nabi-nabi palsu (lih. Mat. 24:4-14).

Kenyataan tentang penderitaan yang tidak terkompromikan itu telah dinyatakan olah Alkitab yang sama, bahwa Allah itu baik dan seluruh ciptaan-Nya ada di bawah pemeliharaan dan bimbingan-Nya. Kesakitan dan penderitaan akan lebih mudah diatasi bila ada penjelasan yang beralasan mengenai hal tersebut. Misalnya, adalah normal kita merasa sakit bila kita meningkatkan latihan dan menderita akibat kelelahan otot. Allah membuat kita dengan kemampuan merasakan kesakitan. Beberapa penderitaan tidak bisa dielakkan. Sangat banyak penderitaan, kesakitan, dan kesengsaraan yang tampaknya tanpa tujuan yang bermanfaat. Bagaimana kita bisa menuntut keras bahwa Allah bersabar dan sangat berkuasa jika ternyata dunia penuh kesengsaraan? Para penganut Pentakostal mengakui bahwa penderitaan orang-orang benar, seperti dikatakan dalam kitab Ayub, amat dipertanyakan. Tetapi para penganut Pentakostal menegaskan pandangan Alkitab tentang pemeliharaan ilahi dan memandang serius masalah-masalah dunia seperti peperangan, ketidakadilan, anak-anak cacat, bencana alam, kemiskinan luar biasa, ketakutan dan kematian. Memperhatikan luasnya realitas kesakitan dan kejahatan di dunia kita, kita harus menyadari bahwa jawaban yang mudah adalah kurang tepat dan beberapa aspek penderitaan harus ada dalam lingkungan hal-hal tersembunyi yang adalah milik Allah (lih. Ul. 29:29).

A. Kenyataan Penderitaan

Alkitab tidak pernah berbuat naif tentang penderitaan dan kejahatan. Alkitab berbicara tentang penderitaan manusia dan seluruh wujud ciptaan (Kej. 3:14-19; Rm. 8:19-22). Haruskah kita berkesimpulan bahwa Allah terlalu lemah untuk berbuat sesuatu terhadap kejahatan dan penderitaan? Ataukah Ia tidak adil dan penyebab masalah-masalah dunia? Menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita pertimbangkan ajaran-ajaran Alkitab mengenai penderitaan dan kejahatan.

1. Kemampuan Allah terhadap Penderitaan

Jangan dianggap bahwa Allah tidak merasa sakit dan duka. Setelah mujizat-mujizat yang diberikan di Mesir, di padang gurun umat Israel tidak menaati Allah dan mereka mendukakan hati Allah (Mzm. 78:40; Ibr. 3:10,17). Dengan pemberontakannya, umat Israel juga mendukakan Roh Kudus (Yes. 63:10; bnd. Ef. 4:30). Ketika Yesus bertemu dengan seorang yang mati sebelah tangan, Ia disedihkan oleh kekerasan hati orang-orang Farisi (Mrk. 3:5). Lagi-lagi Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah “… seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yes. 53:3). Ia menangis ketika berada di kubur Lazarus (Yoh. 11:35) dan Ia menangisi kota Yerusalem (Luk. 19:41). Dalam penderitaan mendalam di taman Getsemani, Ia “… mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan …” (Ibr. 5:7). Ia mengalami berbagai ujian dan penolakan. Ia memikul penghinaan dan pukulan kejam dalam pengadilan terhadap-Nya di depan Kayafas, Pilatus, dan Herodes. Dan, akhirnya, Ia mati dalam kematian yang paling memalukan dan menyakitkan, ketika ia digantung di atas salib kayu. Alkitab jelas mengajarkan bahwa penderitaan tidak hanya dialami manusia tetapi juga dikenakan pada Allah tritunggal. Bapa, Anak, dan Roh Kudus juga merasakan sakitan derita. Bagi Alah, mengasihi sebagaimana yang Ia lakukan berarti bahwa Ia harus banyak menderita. Penderitaan salib adalah perwujudan tertinggi dan ukuran kasih ilahi. Kasih Allah yang luar biasa tercurah dalam hati kita oleh Roh Kudus jauh melebihi ganti rugi untuk setiap kesakitan atau penderitaan (Rm. 5:5).

2. Berbagai Penyebab Penderitaan

Realitas penderitaan adalah akibat dosa di dunia dan kehidupan manusia. Dunia yang diciptakan Allah adalah “amat baik”. Jadi penderitaan bukan disebabkan macam dunia yang dibuat Allah. Tetapi ketika Adam dan Hawa memberontak, dosa mereka membawa penderitaan besar pada umat manusia dan juga pada seluruh ciptaan (Kej. 3:14-19; Rm. 8:20-22). Penderitaan alam semesta adalah akibat langsung ketidaktaatan mereka. Masuknya dosa pada umat manusia telah menyebabkan kesakitan dan mengganggu kenikmatan hidup. Seringkali orang-orang menderita karena perbuatan salah mereka sendiri atau orang lain. Kata Paulus: “… karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Perbuatan kejahatan dan rasa puas sendiri menghasilkan kerusakan yang berdampak pada tubuh, pikiran, dan rohani. Perbuatan salah membawa pada rasa bersalah pribadi dan penyesalan, seperti yang dinyatakan dalam Mazmur 32 dan 51.

Dosa-dosa yang tidak bisa diampuni berakibat serius terhadap kesehatan jasmani seseorang. Banyak masalah mental dan emosional yang disebabkan dosa dan rasa bersalah. Banyak penderitaan karena ketidaktahuan yang mungkin bisa dihindari. Dan penderitaan muncul karena bencana alam, seperti badai, gempa bumi, bakteri mematikan dan penyakit. Masalah-masalah para usia lanjut sering membawanya kepada penderitaan dan kematian. Dimensi-dimensi luas tentang penderitaan merupakan bukti dari akibat-akibat kekuatan dosa.

B. Maksud-maksud Penderitaan

Jelas bahwa penderitaan adalah akibat penghukuman Allah terhadap dosa. Di samping itu, Alkitab menunjukkan bahwa penderitaan memiliki dua maksud.

1. Penderitaan adalah Cara Allah Mengingatkan Orang Berdosa

Pengadilan Allah bisa membawa penderitaan besar atau melayani panggilan-Nya untuk bertobat dan pembaruan. Ketika pengadilan Allah mendatangi bumi, Yesaya berkata, “… maka penduduk dunia akan belajar yang benar” (Yes. 26:9). Pencurahan pengadilan ilahi akan mengakibatkan penderitaan yang luas dan luar biasa (Why. 16:8,9). Jadi penderitaan dan bencana bisa digunakan Allah dengan baik untuk memanggil laki-laki dan perempuan berbalik dari dosa-dosa mereka kepada Allah.

Kita tidak harus menganggap bahwa penderitaan selalu berhubungan dengan kejahatan yang dilakukan seseorang. Beberapa orang baik telah memikul penderitaan berat. Tetapi beberapa pelaku kejahatan hidup yang relatif bebas penderitaan dalam hidupnya. Yesus berbicara mengenai kekeliruan berpikir bahwa tingkat penderitaan seseorang selalu ditentukan oleh luasnya dosa orang itu. Ia berbicara tentang 18 orang yang terbunuh ketika menara di Siloam meruntuhi mereka, dan bertanya apakah mereka “… lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem” (Luk. 13:4). Jelas ke-18 orang itu tidak bersalah, tetapi banyak orang yang lebih berdosa dari pada mereka yang kejatuhan menara. Tampaknya mereka itu binasa dengan tanpa pertobatan, karena terhadap tragedi ini Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:5). Kematian mendadak ke-18 orang itu merupakan peringatan bertobat sebelum terlambat.

2. Penderitaan sebagai Sarana Mendidik

Perjalanan iman tidak bisa dihindarkan dari ditemani penderitaan. Kepada mereka yang dipilih Allah Ia menghukum dan mendidik (Ibr. 12:5-11). Secara rohani kesakitan itu menguntungkan anak-anak Allah. Sebagai umat Kristen kita bisa memandang penderitaan sebagai berikut:

a. Penderitaan mengembangkan sikap dan pendalaman janji kepada Kristus. Paulus, yang telah banyak menderita karena imannya, menulis, “… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengaharapan” (Rm. 5:3,4). Sifat Kristen yang kokoh diperoleh dari belajar menanggung sengsara dengan iman dan keuletan. Jika kita menderita karena Kristus, hasil terhadap iman adalah pertumbuhan sikap dan pendalaman ketaatan kepada Allah. Contoh utama adalah Yesus Kristus, yang menunjukkan bahwa jalan ketaatan adalah jalan kesengsaraan. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8). Yesus bukannya menderita karena ketidaktaatan. Ia tidak berdosa, tetapi Ia belajar dari pengalaman penderitaan yang melibatkan ketaatan kepada Allah. Melakukan kehendak Allah itu sangat mahal, dan kita bisa terundang untuk menanggung pukulan Setan, kekerasan fisik, dan penderitaan mental. Jelas, penderitaan digunakan Allah untuk mengembangkan iman, kerendahan hati, serta kesabaran kita – singkatnya, untuk menghasilkan sikap yang kokoh.

b. Penderitaan adalah saling berbagi penderitaan Kristus. Keinginan Paulus adalah mengenal Kristus dan persekutuan dengan penderitaan-Nya, di mana ia menjadi serupa dengan kematian-Nya (Flp. 3:10). Saling berbagi dalam penderitaan Kristus mempunyai nilai kekal untuk orang-orang percaya (1 Ptr. 1:11; Rm. 8:17,18). Tetapi seperti ditunjukkan Paulus, kepentingan tersebut tidak terletak hanya pada warisan hidup kekal yang akan datang. Persekutuan erat dengan penderitaan Kristus memperdalam pengetahuan kita tentang Juruselamat. Di mana orang-orang percaya saling berbagi dalam penderitaan Tuhan, hubungan mereka dengan-Nya semakin mendalam. Hubungan seperti ini oleh Paulus dicatatnya demikian, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku” (Flp. 3:8). Hubungan kita dengan Tuhan dimungkinkan oleh penderitaan-Nya dan dipelihara serta diperdalam jika kita saling membaginya dalam penderitaan-Nya. Semua yang menderita demi Kristus memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai Kristus dan makin mendalamnya makna kehadiran-Nya.

c. Penderitaan itu penyebab kesukacitaan. Tak seorang pun bisa membaca Perjanjian Baru lebih jauh tanpa berpegang pada konsep kokoh, bahwa saling berbagi dalam Kristus merupakan berkat yang membuat orang-orang percaya punya alasan bersukacita. Yesus memberitakan berkat kepada mereka yang menderita teraniaya karena kebenaran (Mat. 5:10). Setelah para rasul disesah karena memberitakan injil, mereka dibebaskan dan meninggalkannya “… dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus” (Kis. 5:41). Salah seorang di antaranya adalah Petrus. Dengan mengenal apa arti menderita karena injil, ia kemudian menulis kepada orang-orang Kristen tentang “nyala api siksaan”. Katanya, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Ptr. 4:13).

d. Mereka yang berada di jalan iman dan kekudusan tentu mengalami penderitaan. Perjalanan sedemikian tidak dapat menghindarkan mereka untuk bertentangan dengan dunia dan Setan. Dan “… anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2). Menderita karena injil merupakan persiapan memasuki kemuliaan yang akan datang. Roh Kudus menjamin orang-orang percaya bahwa penderitaan saat ini hanya ringan jika dibandingkan dengan “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2 Kor. 4:17). Kemuliaan kekal jauh lebih besar dari pada penderitaan yang sekarang kita pikul dalam hidup ini.

C. Misteri Penderitaan

Walaupun penyebab-penyebab dan maksud-maksud penderitaan telah dikemukakan, kita tidak akan sepenuhnya mengerti pemeliharaan ilahi sampai kita berjumpa muka dengan muka dengan Kristus (lih. 1 Kor. 13:12). Tetap merupakan misteri mengapa beberapa orang Kristen dipilih untuk lebih menderita dari pada yang lain. Orang-orang percaya tidak tahu hari depannya atau apa yang terbaik bagi mereka, tetapi Allah mengetahui kedua-duanya. Jadi kita tidak bisa melihat apa yang Allah coba selesaikan melalui penderitaan umat-Nya. Tujuan-Nya mungkin untuk membenahi ketidaksempurnaan yang tidak terlihat. Ia mungkin menyiapkan kita untuk menyelesaikan tugas khusus yang akan menjadi jalan melayani kemuliaan-Nya. Penderitaan telah menyiapkan banyak orang Kristen memberi penghiburan dan pengharapan kepada orang-orang lain.

Dari titik pandang kita yang terbatas, begitu banyak kesakitan dan penderitaan yang tampaknya tidak perlu dan tidak berarti. Tetapi tak satu pun kita dapat menembus sepenuhnya misteri pemeliharaan ilahi. Namun dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat menghargai kebaikan Allah. Kesadaran Paulus tentang betapa Allah yang baik mendorong-Nya menulis kata-kata yang diilhami Roh: “Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Rm. 11:33). Inilah tanggapan iman. Iman kokoh dalam Allah yang hidup memampukan kita hidup di tengah-tengah penderitaan dan bahaya tanpa kebencian dan putus asa. Iman Ayub memampukannya mengungkapkan, “… Ia hendak membunuh aku, tidak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya” (Ayb. 13:15). Tidak ada jawaban memuaskan sepenuhnya terhadap masalah-masalah kita. Namun demikian, anugerah Allah itu cukup untuk kebutuhan kita; dan Ia layak dipercaya, dipuji dan disembah.

Tidak ada komentar: