Jumat, Desember 14, 2007

GEREJA (EKKLESIOLOGI)

Pengajaran tentang Gereja (Ekklesiologi) merupakan hal penting dalam melandasi pelayanan berjemaat. Siapaun umat Kristen yang tidak memahami tentang pengajaran tentang gereja, maka bagaimana ia dapat melayani dan mengajar dengan benar. Dalam tulisan ini, penulis memaparkan wacana pemahaman tentang doktrin Gereja menurut perspektif Donald Guthrie, yang ditulisnya dalam buku Teologi Perjanjian Baru.'

1. Kitab-kitab Injil Sinoptik.


Penyelidikaii sepintas terhadap kitab-kitab Injil ini akan membawa penyelidik pada kesimpulan bahwa Yesus tidak tertarik terhadap Jemaat. Memang, jika kita hanya meniperhatikan penggunaan kata ekklesia (Jemaat) saja, maka kita akan terkejut karena istilah ini jarang terdapat dan bahkan hanya muncul dalam satu kitab Injil saja (Mat 16:18 dst.; 18:17-18). Meskipun demikian, untuk memperlihatkan baliwa pandangan Yesus tentang Jemaat tidak semata-mata tergantung pada kedua ucapan dalam Injil Matius tersebut, pertama-tama kita akan memikirkan bukti mengenai gagasan adanya suatu Jemaat Kristen, dan kemudian kita akan menyelidiki secara teliti arti yang khusus dari Matius 16:18. Sebagai langkah awal dalam penyelidikan, kita akan membahas hubungan antara Kerajaan Allah dengan Jemaat.
Guthrie mengatakan, menurut pengajaran Yesus, Kerajaan Allah bersifat "masa sekarang" dan juga "masa yang akan datang". Hubungan antara Jemaat dengan Kerajaan Allah, Pertama-tama kita harus memperhatikan bahwa tidak semua pernyataan mengenai Kerajaan Allah dapat ditujukan pada Jemaat. Kerajaan Allah berpusat pada Kristus dan bukan pada niurid-murid. Jemaat memperoleh dasarnya dalam Kerajaan Allah. Karena itu keadaan Kerajaan Allah yang sekarang tidak dapat disamakan dengan Jemaat yang murni, tetapi jelas bahwa jemaat murni itu berasal dari Kerajaan Allah. Paling baik bila menganggap bahwa semua yang tennasuk dalam Kerajaan Allah tennasuk dalam Jemaat yang sempurna, tetapi bahwa semua yang termasuk dalam Jemaat yang kelihatan belum tentu termasuk dalam Kerajaan Allah.
Jemaat merupakan perwujudan yang tidak lengkap dari Kerajaan Allah, Kita harus menyimpulkan bahwa Kerajaan Allah tidak ditetapkan secara penuh dalam pelayanan Yesus di dunia, atau pun secara penuh akan ditetapkan nanti pada akhir zaman. Jemaat masa kini mempunyai tugas untuk membenkan kesaksian mengenai Kerajaan Allah, tetapi perwujudannya yang sepenuhnya tidak akan terjadi pada zaman ini. Pengaruh teori-teori yang bersifat eskatologis;
(1) Pandangan bahwa Kerajaan Allah merupakan pemerintahan Allah yang diwujudkan dalam kehidupan pribadi; pandangan ini mengesampingkan semua gagasan tentang jemaat dari pengajaran Yesus.
(2) Pandangan baliwa Kerajaan Allah dimaksudkan untuk memulai tata kemasyarakatan yang baru dan Jemaat akan melebur ke dalam masyarakat secara terpadu, dengan berftingsi sebagai katalisator untuk pembaruan masyarakat itu.
(3) Pandangan bahwa Kerajaan Allah bersifat "akan" saja dan sepenuhnya merupakan pekerjaan Allah, karena itu Kerajaan dan Jemaat tidak berhubungan dan Kerajaan hadir hanya dalam pikiran Yesus.
(4) Pandangan bahwa Kerajaan Allah adalah urusan masa yang akan datang saja dan tidak hadir dalam pengalaman Yesus; dengan demikian jemaat tidak memiliki dasar dalam pemikiran maupun pengajaran Yesus.
(5) Pandangan bahwa Kerajaan Allah betul-betul termasuk perkara-perkara masa yang akan datang, tetapi telah meluap ke dalam masa sekarang dalam bentuk Jemaat Kristen.
(6) Pandangan bahwa Kerajaan Allah sudah terwujud pada masa sekarang (atau sedang dalam proses untuk perwujudan), yang sebenamya menyamakan Kerajaan Allah dengan Jemaat, tetapi mengesampingkan atau menghilangkan segi-segi keakanannya.
(7) Pandangan bahwa Kerajaan Kristus, yang ada sekarang ini berbeda dengan Kerajaan Allah, yang berhubungan dengan masa yang akan datang.
Pengertian yang benar dari pengajaran Yesus mengenai Kerajaan Allah tidaklah menghilangkan kemungkinan bahwa la memikirkan adanya sebuah perhimpunan yang terdiri dari pengikut-pengikut-Nya yang akan hidup selama masa antara kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya yang kedua kali.

Gagasan mengenai jemaat dalam pengajaran Yesus.
Oleh karena misi Yesus diperhadapkan dengan latar belakang pemikiran PL, maka terdapat beberapa pertimbangan penting yang timbul dari adanya kesinambungan antara nusi itu dan hubungan Allah dengan umat-Nya, Israel. Jemaat Kristen sebagai umat Israel yang sejati, murid-murid sebagai inti jemaat yang baru, tuntutan etis terhadap murid-mund mengisyaratkan suatu Jemaat.

Ucapan-ucapan ekklesia dalam Injil Matius.
Karena hanya ada dua pemyataan dalam seluruh kitab Injil yang menggunakan kata ekklesia dan keduanya terdapat dalam Injil Matius (Mat 16:18; 18:17). Mengingat penggunaan yang tuas dari kata itii dalam LXX untuk Jemaat Israel, haruslah diperhatikan bahwa ekklesia menerjemahkan kata Ibrani qahal, bukan eda. Kedua kata ini digunakan untuk "perhimpunan umat Allah". Jika kata yang Yesus pakai mempunyai arti dari gahai dalam LXX, maka ekklesia berarti umat Allah dengan pengertian suatu himpunan yang baru yang secara khusus memiliki hubungan dengan Mesias (karena itu Yesus berkata "JemaatKu").
Pendapat lain tnengatakan bahwa ekklesia menerjemahkan kata Aram kenisyta, dan bahwa Yesus mengarah pada suatu rumah sembahyang (sinagoge) Karena itu, kits menarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus dengan ekklesia bukanlah suatu organisasi, tetapi sekelompok orang yang dianggap-Nya sebagai milik-Nya dan yang diwakili oleh murid-murid-Nya. Ini merupakan suatu gagasan yang lebih longgar daripada perkembangan yang muncul kemudian dalam sejarah Kristen mula-mula. Tidak ada alasan untuk menduga bahwa ekklesia yang dimaksudkan Yesus tidak membentuk inti dari Jemaat yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat-surat PB. Haruslah diperhatikan lebih lanjut bahwa kata ekklesia dapat berani suatu kelompok orang-orang tertentu, selain seluruh umat Allah secara umum. Dengan demikian istilah itu akan mudah dikenal sebagai istilah yang sesuai untuk perhimpunan mula-mula dalam Kisah Para Rasul yang menjadi dasar dari jemaat PB.

Sakramen Baptisan.
Pada masa Yesus hidup di dunia, terdapat tiga segi baptisan yang perlu diperhatikan: baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan hubungannya dengan Yesus sendiri; baptisan yang dilakukan oleh Yesus sendiri melalui murid-murid-Nya; dan perintah Yesus kepada muridmurid-Nya untuk membaptiskan. Kita akan memeriksa segj-segi ini secara terpisah untuk memperoleh suatu gambaran yang benar mengenai pentingnya upacara ini dalam pemikiran Yesus.


Sakramen Perjamuan Kudus.
Tidak satu pun dari kitab-kitab Injil Sinoptik menjelaskan bahwa Tuhan Yesus memberikan perintah khusus tentang pengulangan upacara perjamuan pada masa depan. Hanya dalam catatan Paulus mengenai sakramen ini ditulis, "Perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku" (1 Kor 11:25). Agaknya setelah Pentakosta murid-murid mengakui kepentingan teologis dari kata-kata penetapan itu dan bukan hanya mencatat kata-kata yang sudah dipakai Tuhan Yesus, tetapi juga mengulangi perjamuan karena kata-kata itu tclah diucapkan dengan bobot dan kekuasaan yang khusus. Ada satu pertimbangan lain yang tidak boleh diabaikan. Menurut Lukas 24:30, Kristus yang bangkit memecahmecahkan roti, lalu mengucap berkat dan memberikannya kepada kedua orang yang telah berjalan bersama deiigan-Nya menuju ke Emaus. Peristiwa ini mungkin sekali mendorong murid-murid untuk terus mengulangi perbuatan itu. Tentu saja tidak pasti bahwa perbuatan Kristus yang bangkit ini dapat dihubungkan dengan Perjamuan Kudus. Tetapi mengingat penggunaan istilah "memecah¬mecahkan roti" dalam Kisah Para Rasul 2:42,46; 20:7, ada kemungkinan besar bahwa Perjamuan Kudus sekurang-kurangnya sedang dipikirkan, khususnya karena di Emaus hal pemecahan roti itu dimengerti dalam suasana persekutuan dengan Yesus dan kesadaran akan kehadiran-Nya.

2. Injil Yohanes.
Gagasan tentang perhimpunan ini didukung lebih lanjut oleh dua kiasan yang terdapat dalam Injil Yohanes. Kiasan tentang gembala dalam Yohanes 10 didasarkan alas penggambaran umat Allah, Israel, yang terkenal dalam PL (bnd. Yer 23:1; Yen 34:11; Yes 40:11; Man 23). Kiasan tentang pokok anggur secara lebih jelas lagi memberi kesan tentang sifat Jemaat yang akan datang sebrfgai satu lembaga.

3. Surat-surat Yohanes.
Dalam Surai I Yohanes Jemaat hampir tidak disebut dari sudut pandang ciri-cirinya maupun pemerintahannya. Kelihatannya surat ini ditujukan kepada pribadi-pribadi Kristen yang kemungkinan tertarik, dan bukan ditujukan, pada suatu Jemaat Kristen. Walaupun surat ini tidak dialamatkan secara khusus serta tidak menyebutkan nama atau jabatan tertentu, namun dengan jelas penulis memikirkan sekelompok orang yang mungkin dipengaruni oleh dosetisme. Tentu saja dapat dikatakan bahwa Surat I Yohanes membangkitkan semangat perhimpunan. Para pembaca sering didorong untuk saling mengasihi dan berulang-ulang dinasihatkan untuk tinggal di dalam Kristus; kedua terra ini menyumbangkan rasa kesatuan yang erat dan teguh. Hal ini didukung oleh penggunaan istilah "saudara-saudara" yang serirjg dipakai dalam surat ini.
Apabila Surat II Yohanes ditujukan pada scbuah Jemaat, maka surat ini mungkin memberikan beberapa petunjuk mengenai sikap yang harus diambil oleh Jemaat-jemaat Kristen terhadap orang-orang yang diketahui telah mengajarkan ajaran yang menyesatkan. Dalam Surat III Yohanes kita dihadapkan dengan apa yang kelihatannya merupakan suatu perselisihan pribadi di dalam Jemaat atau antara dua Jemaat.

4. Kisah Para Rasul
Kitab Kisah Para Rasul merupakan pcnghubung yang penting antara kitab-kitab Injil dan surat-surat rasuli bila kita membahas ajaran tentang Jemaat dalam PB. Dalam surat-surat itu terdapat bermacam-macam contoh mengenai cara orang-orang Kristen mula-mula menafsirkan Jemaat yang telah mulai ada, terutama dengan menggunakan kiasan-kiasan yang memberikan kesan tertentu. Dalam menyelidiki bukti dalam Kisah Para Rasul kita akan mempertimbangkan tiga segi berikut ini: timbulnya. Jemaat, misi Jemaat, dan kepemimpinan Jemaat. Dalam tahap-tahap awal ini kita hanya akan menemukan beberapa kecenderungan, yang dijelaskan khususnya dalam surat-surat Paulus.

JEMAAT YANG BERKEMBANG : PAULUS.
Guthrie mengatakan, karena itu jelaslah bahwa kata "jemaat" digunakan dalam pengertian sekelompok orang-orang percaya dalam suatu daerah setempat. Suatu bentuk organisasi tidak disebut. Ternyata, hanya dalam Filipi 1:1 disebutkan pejabat-pejabat gerejawi, dan mereka pun hanya disebutkan setelah menyebutkan "orang-orang kudus". Pengertian kedua yang dimaksudkan Paulus ialah Jemaat yang bersifat universal. Pengertian ini dinyatakan secara tidak langsung dalam beberapa kiasan yang dipakainya, tetapi baru menjadi jelas dalam surat Efesus dan Kolose, yang menguraikan kedudukan Kristus sebagai Kepala Jemaat (Ef 1:22; Kol 1:18). Dalam surat-surat Paulus terdapat petunjuk-petunjuk tertentu mengenai ciri dari perhimpunan-perhimpunan lokal tersebut. Istilah en ekklesia (dalam atau sebagai Jemaat) digunakan beberapa kali dalam Surat I Korintus (1 Kor 11:18; 14:19,28,35) dengan arti suatu perhim punan orang-orang percaya, Sifat ini didukung dengan kuat oleh kiasan kiasan yang dipakai Paulus, misalnya Jemaat sebagai satu tuhuh, pengantin perempuan, bangunan, umat Allah yang sejati. Sakramen yang Paulus bahas antara lain: Ibadah yang berupa nyanyian pujian, pelayanan firman, pengakuan iman dan Doa; Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus; Paulus juga membahas; Pemimpin-pemimpin Jemaat juga peranan perempuan dalam Jemaat.

JEMAAT YANG BERKEMBANG II BAGIAN-BAGIAN LAIN DARI PERJANJIAN BARU

1. Surat Ibrani

Dalam Surat Ibrani, Jemaat Kristen hampir seluruhnya dipandang sebagai umat Allah yang sedang mengembara. Dalam Ibrani 3:6 penulis mengidentifikasikan para pembacanya sebagai rumah Allah.1 Karena itu temanya ini diterapkan kepada sekelompok orang, bukan kepada perseorangan.

2. Surat Yakobus

Surat ini dialamatkan "kepada kedua belas suku di peranta (Yak 1:1), hal ini langsung memperlihatkan ciri Yahudi dalam pandangan pengarang tentang Jemaat. Sebutan kedua belas suku itu memberi kesan bahwa yang dimaksudkan ialah orang-orang Kristen Yahudi. Dalam hal itu, istilah "perantauan" (diaspora) yang digunakan di agaknya dipahami dalam pengertian yang sama dengan perant orang-orang Yahudi, yaitu suatu istilah yang mengarah pada orangYahudi yang tinggal di daerah orang-orang bukan Yahudi. Dalam surat ini terdapat dua gagasan tentang Jemaat. Istilah "kumpulan" (sunagoge) disebutkan dalam Yakobus 2:2, dan para penatua "jemaat" (ekklesia) disebutkan dalam Yakobus 5:14. Adanya gabungan kala Yahudi untuk "kumpulan" dengan istilah yang nanti digunakan untuk perhimpunan orang Yahudi maupun bukan Yahudi, menunjukkan bahwa surat Yakobus barasal dari tingkat perkembangan gereja yang paling awal.

3. Surat-surat Petrus
Karena kata "jemaat" tidak terdapat dalam kedua Surat Petnis, pembahasan kita terbatas pada beberapa keterangan saja. Surat I Petrus ini ditujukan kepada "orang-orang pendatang", hal ini langsung me berikan petunjuk bahwa orang-orang Kristen dianggap sebagai sekelompok orang yang tidak mempunyai tempat berlabuh yang tetap dal dunia ini. Kiasan tentang bangunan juga terdapat dalam I Petrus 2:4-8, d' dikatakan bahwa orang-orang percaya seumpama batu-batu hidup dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani.
Gagasan lain yang menonjol ialah gagasan umat Allah. Mereka yang dahulu "bukan umat Allah" sekarang telah menjadi umat Allah (I Ptr 2:10). Dari gambaran-gambaran yang dikemukakan di atas diperoleh pengertian Jemaat Kristen sebagai umat Israel yang rohani.

4. Kitab Wahyu
Kitab Wahyu ditujukan kepada sekelompok Jemaat di Asia. Walaupun pesan yang ditujukan kepada Jemaat-jem itu disampaikan secara terpisah-pisah dalam Wahyu 2 dan 3, Jemaat-jemaat tersebut dianggap sebagai satu tubuh. Tangan kanan Kristus yang dimuliakan memegang bintang-bintang yang melamban Jemaat-jemaat itu (Why 1:16). Dikatakan juga bahwa Kristus berada di tengah-tengah tujuh kaki dian yang merupakan lambang lain untuk kelompok jemaat-jemaat tersebut, walaupun keadaan masing-masing Jemaat itu berbeda-beda, namun mereka dipersatukan menjadi tubuh Ktristus oleh beberapa hal. Kiasan lain yang digunakan - untuk Jemaat ialah "pengantin perempuan". Kiasan ini pertama-tama terdapat dalam Wahyu 19:7-8, dihubungkan dengan • perjamuan kawin Anak Domba.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Perjamuan kudus apa perjamuan Tuhan bro? :)