Minggu, November 23, 2008

Pernikahan Yang Berhasil

I. PERINGATAN KEPADA SUAMI-ISTERI

Dalam Alkitab kita belajar bahwa Allah hanya menciptakan dua buah lembaga dalam dunia ini. Yang pertama adalah lembaga keluarga dan yang kedua adalah lembaga gereja. Pada waktu menciptakan kedua lembaga ini Allah menyatakan kehendaknya dan memberikan peraturannya agar kedua lembaga ini berjalan sesuai dengan rencana-Nya ini. Di samping menyatakan kehendak dan memberikan aturan-Nya, Allah juga menganugerahkan Roh Kudus-Nya yang memberi kuasa dan kemampuan (empowering) kepada manusia untuk menjalankan kedua lembaga itu sebaik-baiknya.
Karena Allah sangat mencintai manusia dan menetapkan lembaga-lembaga ini untuk pemeliharaan manusia (baik secara jasmani maupun secara rohani), Ia juga memberi peringatan-peringatan-Nya agar manusia tidak merusak kedua lembaga ini. Kita akan melihat beberapa contoh peringatan-Nya kepada manusia, baik kepada suami maupun kepada isteri.

Peringatan Kepada Suami:
Maleakhi 2:13-16 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan; Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!
Pada ayat-ayat dalam Maleakhi di atas digambarkan perlakuan dan hukuman yang diberikan Allah kepada suami-suami yang melanggar kehendak-Nya. Suami-suami biasanya sukar menangis. Di sini tampak seorang suami yang menangis, meratap dan merintih sedemikian rupa hingga airmatanya membasahi dan menutupi mezbah Tuhan. Mengapa hal itu sampai terjadi? Dijawab: Karena Tuhan tidak mau lagi menerima persembahan mereka. Ia bahkan tidak mau berpaling atau menoleh kepada persembahan itu.
Ketika ditanyakan penyebabnya, Allah menjawab bahwa Ia menyaksikan sendiri pernikahan suami itu dengan isterinya. Ia melihat bahwa suami itu telah tidak setia kepada isterinya.
Biasanya pada suatu upacara pernikahan kita melihat seorang suami dan isteri yang baru menikah menanda-tangani surat pernikahan mereka. Pendeta yang menikahkan mereka juga ikut menanda-tangani surat itu, demikian juga dua orang saksi. Dari ayat-ayat di atas kita membaca bahwa pada saat pernikahan sepasang muda-mudi, Allah sendiri menjadi saksi (acting as a witness). Ia menjadi saksi walaupun tidak tampak membubuhkan tanda tangan-Nya!
Peringatan Allah ini juga berlaku bagi para suami masa kini. Pada waktu menikah kita mengucapkan janji nikah yang antara lain berbunyi demikian:
“... aku akan memeliharamu dalam keadaan susah dan senang, kaya dan miskin, sakit dan sehat, meninggalkan semuanya dan setia kepadamu sampai maut menceraikan kita ...”
Janji nikah ini dengan jelas menyatakan bahwa kita akan setia kepada isteri kita sampai salah satu mati, sampai diceraikan oleh maut.
Ternyata janji ini sering sudah kita langgar. Kita sudah tidak setia kepada isteri masa muda kita (isteri yang kita dapatkan pada waktu kita masih muda, 25, 27 atau 30 tahun, misalnya). Karena pelanggaran terhadap janji ini Allah tidak mau menerima persembahan kita yang menyebabkan kita menangis parah.
Mungkin kita berkata bahwa pada waktu menikah dulu kita belum seorang Kristen hingga tidak mengucapkan janji nikah seperti di atas. Mungkin memang tidak, tetapi sejak menjadi seorang Kristen kita telah banyak menyaksikan upacara pemberkatan nikah di gereja dan mendengar janji itu diucapkan. Janji nikah itu dibuat berdasarkan kehendak Allah dan berlaku untuk tiap pasangan suami-isteri. Kesetiaan dan kasih antara suami-isteri dalam pernikahan merupakan kehendak Allah bahkan juga untuk tiap pasang suami-isteri yang bukan Kristen! Pengkhianatan dalam pernikahan sangat tidak dikehendaki Allah.
Dalam ayat-ayat di atas dengan tegas Allah juga menyatakan sikapnya terhadap perceraian: “Aku membenci perceraian.” Karena sikap Allah terhadap perceraian yang seperti inilah maka Gereja juga selayaknya membenci perceraian. Gereja tidak pernah dibenarkan menganjurkan perceraian sebagai jalan keluar untuk mengatasi konflik dalam pernikahan. Sebagai suami-isteri kita juga sebaiknya tidak gampang mengeluarkan kata-kata, “Kalau begitu kita cerai saja” dan tidak menggunakan cerai sebagai ultimatum.
Ayat-ayat di atas juga menyatakan bahwa Allah membenci orang yang “menutupi pakaiannya dengan kekerasan.” Allah tidak menghendaki seorang suami menggunakan kekerasan (main tampar, main pukul) terhadap isteri dan anak-anaknya.
Apakah Allah serius dengan peringatan-Nya dalam perikop di atas? Apa celakanya, apa ruginya kalau Allah tidak mau menerima persembahan kita?
Dalam I Petrus 3:7 Allah juga memberi peringatan yang serupa:
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
Tampak di sini satu lagi peringatan Allah kepada kita para suami. Kita diperintahkan untuk hidup bijaksana dan menghormati isteri kita yang adalah “kaum yang lebih lemah” (pukulan dan tamparan suami biasanya lebih keras daripada tamparan isteri karena memang suami lebih berotot daripada isteri).
Justru untuk isteri yang lebih lemah inilah Allah memberikan suatu perlindungan khusus. Ia memberi peringatan yang keras terhadap para suami yang memperlakukan isterinya dengan sewenang-wenang, melecehkannya serta tidak menghormatinya: SUPAYA DOAMU JANGAN TERHALANG. Bila kita melanggar peringatan Allah ini, Ia tidak akan mendengar doa kita. Doa kita seakan-akan hanya mengenai plafon rumah kita dan kemudian terpantul kembali ke bawah.
Seriuskah peringatan Allah ini? Bersungguh-sungguhkah Allah ketika memperingatkan seperti ini?
Suatu ketika sepasang suami-isteri muda datang kepada penulis untuk konseling. Mereka belum lama menikah (mungkin baru lima tahun). Putri mereka yang kecil baru berumur kira-kira dua tahun. Mereka mempunyai sebuah perusahaan yang tidak begitu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Dari pembicaraan tampak bahwa sang suami mempunyai kebiasaan suka mengkritik isterinya. Isterinya selalu dipersalahkannya untuk apapun yang tidak memuaskannya dalam rumah tangga. Putri mereka yang masih kecil itu sering pilek atau batuk, tetapi tiap kali batuk isterinya selalu kena makiannya dan sekali-kali tangannya melayang menampar. Bila sudah agak sore dan putrinya belum mandi, sang isteri kena marah lagi, walau sang suami sendiri tidak mau ikut turun tangan memandikan anak mereka.
Tentunya menikah dengan suami seperti ini tidak akan membawa kebahagiaan. Kapan isterinya merasa tenang? Bila suaminya pergi bekerja pukul delapan pagi. Pada waktu itu sang isteri bisa menikmati kaset-kaset rohani. Tetapi bila waktu telah mendekati pukul lima sore, ia mulai cemas. Setelah suaminya pulang ia merasa takut karena akan kena marah lagi.
Mendengar penjelasan mereka seperti ini penulis membuka ayat-ayat di atas untuk memperingatkan sang suami. Bila ia tidak mau berubah dengan memperlakukan isterinya secara bijaksana, menghormatinya serta menanggalkan “pakaian kekerasannya,” Allah tidak akan mau mendengarkan doa-doa dan permintaannya. Jawab suami itu, “Ya, ya, saya akan coba.”
Tidak lama setelah itu, hanya beberapa hari sesudahnya, suatu malam penulis menerima telepon dari suami ini. Nadanya menandakan kecemasan. Ia berkata, “Tolong bapak pendeta berdoa untuk usaha saya. Tangan kanan saya, orang yang saya percayai pada saat ini, sedang kabur. Ia pergi dengan membawa uang perusahaan saya sebesar hampir tiga ratus juta rupiah. Tolong bantu doa agar ia kembali atau ditemukan.” Bagi penulis, uang sejumlah itu besar sekali, bagi suami ini, tiga ratus juta merupakan jumlah yang cukup besar. Apa yang harus penulis lakukan mengenai permintaan doa ini? Sebagai pendeta, penulis mendoakan kasus ini melalui telepon.
Beberapa hari setelah itu, suami ini menelepon lagi. Ia mengatakan bahwa orang kepercayaannya itu benar-benar menghilang. Tempat pemondokannya telah kosong dan ia pergi tanpa memberi tahu alamat barunya. Suami ini berkata, “Tiap bulan saja bunga yang harus saya bayar di bank cukup besar. Sekarang saya kehilangan hampir 300 juta dan tiap bulan saya harus tetap membayar bunga untuk 300 juta ini ...”
Seriuskah Allah dengan peringatan-Nya? Tentu saja! Walaupun seorang pendeta membantu seorang yang melanggar firman-Nya dengan berdoa, firman itu (supaya doamu jangan terhalang) akan tetap digenapi. Allah tidak akan membatalkan kehendak-Nya hanya karena seorang pendeta membantu berdoa sedangkan suami ini masih tetap dengan pola hidupnya yang tidak menghormati isterinya dan memperlakukan isterinya secara sewenang-wenang. Segala doa seorang suami tetap tidak akan didengar Allah selama ia tetap melanggar firman Allah! Ia akan menjadi makanan empuk bagi orang-orang yang berniat menipunya. Allah tidak akan melindunginya.
Terhadap seorang yang mencengkeram orang lain (misalnya suami terhadap isteri), apa yang harus dilakukan Allah untuk melepaskan cengkraman seperti itu? Apa yang akan dilakukan seorang bapak bila anak lelakinya yang besar menarik-narik rambut adik perempuannya serta tidak mau melepaskannya walaupun adik itu telah menangis?
Suatu ketika seorang bapak mendatangi penulis setelah penulis berkhotbah tentang hal di atas. Ia menanyakan apa yang harus dilakukan Allah untuk melepaskan cengkraman suami terhadap isterinya seperti itu? Penulis menanyakan balik, kira-kira apa yang harus dilakukan Allah dan apakah ia mempunyai pengalaman dalam hal itu.
Bapak ini kemudian menceritakan kasusnya sendiri. Ia mengakui bahwa ia dahulu juga adalah seorang suami yang kasar dan selalu mempersalahkan dan mengkritik isterinya. Walau ia sudah seorang Kristen, entah mengapa ia selalu suka marah-marah terhadap isterinya. Ia selalu menekan isterinya. Isterinya banyak mengalami stres. Apapun yang dilakukan isterinya selalu dicelanya.
Pada waktu itu ia adalah seorang yang sangat kaya. Usahanya ialah jual-beli emas, bukannya membuka toko emas, tetapi melihat harga emas dan melakukan transaksi, kadang-kadang hanya melalui telepon atau surat saja.
Oleh Allah ia dibiarkan sampai bangkrut. Semua uangnya habis. Setelah semua miliknya dijual, ia masih mempunyai hutang yang besar, sampai mendekati setengah milyar rupiah. Ia dan keluarganya terpaksa harus kontrak sebuah rumah kecil. Ia hanya berdiam diri di kamar di belakang. Ia takut keluar rumah karena takut dikejar para kreditornya atau tukang pukul mereka. Bila telepon berdering, ia menjadi berdebar-debar karena takut dimaki-maki orang yang tidak dapat dibayar kembali hutangnya.
Karena dulu kaya sekali dan setelah itu jatuh dalam hutang yang besar, hatinya terasa sakit sekali. Kalau sakitnya tidak tertahankan, ia membentur-benturkan kepalanya di tembok hingga berdarah. Bagi seorang normal tentunya hal itu tampak sebagai tindakan yang aneh dan bodoh tetapi ia mengatakan bahwa walaupun kepalanya sakit, rasa sakit di hatinya jauh melebihi sakit di kepalanya dan untuk meringankan rasa sakit di hati, ia membenturkan kepalanya itu. Suatu saat, ia bercerita, ia melihat sebuah obeng di meja. Ia berpikir, betapa enaknya kalau ia berani mengambil obeng itu dan menusuk jantungnya sendiri. Ia sudah sering memikirkan untuk bunuh diri karena rasa sakit dan hilangnya harga diri yang begitu parah.
Ia tentunya tidak sampai bunuh diri. Allah akhirnya menolongnya. Ketika bertemu dengan penulis, ia adalah seorang yang biasa saja, tidak kaya.
Memang Allah serius sekali memberikan peringatan-Nya dan kita akan babak belur bila ingin melawan Allah yang mengasihi kita dan menginginkan kita menjadi seperti Anak-Nya, Yesus Kristus. Tindakan pasif Allah seperti dalam kasus pertama di atas (Allah berdiam diri dan tidak mendengar doa kita) sudah parah sekali akibatnya bagi kita. Apalagi bila Allah aktif mendisiplin kita dengan menghajar dan menyesah kita (karena cinta-Nya pada kita juga) seperti dalam Ibrani 12:5-11.
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih oleh-Nya.

Peringatan Kepada Isteri:
Tetapi tidak semua isteri lebih lemah dibandingkan suaminya. Banyak juga isteri yang lebih kuat daripada suaminya. Ada juga isteri-isteri yang kecil mungil tetapi mempunyai mulut yang begitu tajam sehingga menundukkan suaminya. Suaminya mungkin tinggi besar dan galak di perusahaannya tetapi begitu sampai di rumah ia menjadi lemah, tidak berdaya dan merasa kecil di hadapan isterinya.
Suatu ketika seorang ibu yang bertubuh besar datang ke kantor penulis untuk konsultasi (untuk memudahkan pembahasan dalam buku ini, penulis memberi nama secara acak saja: ibu Tulus). Mendengar percakapannya sebentar saja penulis sudah tahu bahwa ia sangat dominan. Suaranya keras dan ia tidak segan-segan menggunakan kata-kata makian. Ia marah kepada suaminya yang telah mengkhianatinya dengan mempunyai seorang isteri muda. “Saya baru tahu saya sudah kecolongan selama dua tahun. Ia bahkan sudah mempunyai anak dengan perempuan itu.”
Setelah mendengarkannya cukup lama dan ia mulai reda emosinya, penulis bertanya, “Apa andil ibu hingga suami kabur seperti ini?”
“Ya tidak tahu. Suami saya orangnya sangat lemah. Kalau di rumah ia seperti tikus. Ia tidak bisa mengambil keputusan, diam saja. Itu sebabnya saya bisa sampai kecolongan selama dua tahun ini. Saya tidak menyangka ia berani dengan perempuan lain.”
“Mungkin suami ibu seorang yang lemah, tetapi pertanyaan saya tetap: ‘Apa andil ibu hingga suami kabur seperti ini?’ ”
“Tidak tahu. Tetapi bukankah ia hidup dalam perzinahan? Bukankah ia hidup dalam dosa? Memang ia dulu sering ke gereja, tetapi akhir-akhir ini ia tidak mau lagi.” Ibu ini mengomel lagi.
“Memang suami ibu mungkin hidup dalam perzinahan, dalam dosa dan tidak diperkenan Allah, tetapi pertanyaan saya tetap: ‘Apa andil ibu hingga suami kabur seperti itu?’ ” “Yah, saya tidak tahu.”
“Oke, kalau memang tidak tahu, lain kali bila ibu datang ke sini, tolong bawa salah seorang anak ibu. Saya akan menanyakan beberapa hal kepadanya.”
Pada saat pertemuan berikutnya, ibu Tulus benar-benar membawa anaknya perempuan berusia kira-kira 12 tahun. Penulis meminta ibu ini keluar meninggalkan kami berdua. Ternyata anak ini berani berbicara. Ketika ditanyakan kira-kira mengapa sampai ayahnya kabur seperti itu, ia menjawab, “Wah, payah oom. Kalau saya jadi papa, saya sudah kabur dulu-dulu.”
“Mengapa begitu. Bagaimana hubungan papa dan mama?”
“Susah, oom. Di rumah, Mama kalau panggil papa ‘si bego, si bego.’ Mama cerewet sekali orangnya”
Mendengar dua jawaban di atas, tentunya kita sudah dapat menduga bagaimana kira-kira hubungan antara ibu ini dengan suaminya. Tampak jelas bahwa sang isteri lebih dominan dari suaminya. Kita juga dapat memperkirakan kehendak Allah yang mana yang dilanggar dalam pernikahan ini hingga terjadi hubungan yang buruk seperti itu.
Setelah anak itu keluar dan ibu Tulus masuk kembali, penulis menanyakan lagi pertanyaan yang sama: Apa andil ibu ini hingga suaminya kabur seperti itu. Tentunya ia juga sudah memikirkan jawabannya selama ini. Ia menjawab, “Jangan-jangan saya terlalu galak.”
“Ya, ibu suka memaki suami, bego-begoin dia? Selalu membuat ia stres, tertekan dan kehilangan harga dirinya sebagai lelaki?” Ia mengangguk.
Penulis kemudian membayangkan hubungan mereka seperti ini, “Bila sebelah kiri saya adalah ibu, saya adalah bapak. Hubungan ibu dan bapak adalah hubungan yang resmi, yang legal, yang direstui jemaat dan hubungan yang dikehendaki Allah. Bahkan mereka yang di luar jemaatpun tahu bahwa hubungan ini yang baik.
Sebaliknya di sebelah kanan saya adalah si isteri muda. Hubungan bapak dan isteri mudanya bukanlah hubungan yang direstui, baik oleh jemaat Tuhan, maupun oleh Tuhan. Bahkan orang di luar jemaatpun tahu hubungan ini adalah hubungan yang tidak dapat dibenarkan. Bila bapak membutuhkan sesuatu, tentunya seharusnya ia berpaling ke kiri, ke isterinya. Tetapi mengapa ia malah berpaling ke kanan? Apa yang ada pada ibu yang tidak ada pada isteri mudanya, sebaliknya apa yang ada pada isteri muda itu yang tidak ada pada ibu?”
Ibu Tulus menjawab lagi, “Mungkin saya terlalu galak, ya?”
Penulis meneruskan, “Pengalaman apa yang didapat bapak bila ia pergi ke kiri, kepada isterinya, untuk mendapatkan kebutuhannya? Menyakitkan atau menyenangkan?”
“Menyakitkan,” jawabnya.
“Mungkin ia baru berbicara satu kalimat, ibu sudah memberondongnya dengan sepuluh kalimat, ditambah dengan kata-kata kasar pula. Sebaliknya apa pengalamannya bila ia pergi ke rumah isteri mudanya? Mungkin ia akan mendapat kopi dan pisang goreng. Ia akan mendengar kata-kata manis dan sanjungan. Mungkin juga (maaf, tetapi ini realita) ia mendapat paha, kepalanya di elus-elus dan ubannya dicabuti dengan kasih sayang. Bila ini situasinya, mana yang ia pilih, mendekati isteri tuanya atau isteri mudanya?” Ibu ini diam.
Adalah suatu fakta bahwa makhluk hidup biasanya akan menghindari pengalaman yang menyakitkan atau mematikan dan mengulang pengalaman yang indah dan menyenangkan. Bahkan pada binatang yang jauh lebih rendah dari manusiapun, seperti cacing atau tikus, sudah ada naluri itu. Contohnya sebuah percobaan dengan tikus:
Kita masukkan seekor tikus ke dalam sebuah sangkar kawat yang sudah dihubungkan dengan sebuah kabel ke sumber aliran listrik. Aliran yang diberikan kecil saja dan tidak mematikan tetapi agak menyakitkan dan tidak enak bagi tikus tersebut. Kita kemudian menyalakan sebuah lampu merah dan beberapa detik kemudian listrik dinyalakan pula. Tikus yang kesakitan itu akan melompat-lompat dalam sangkarnya tetapi tidak dapat melarikan diri. Di salah satu sisi sangkar itu kita letakkan sebuah papan kayu kecil. Bila secara tidak sengaja tikus itu melompat ke atas papan itu, ia tidak merasa sakit lagi.
Lampu kemudian dimatikan dan aliran listrik dihentikan. Tikus itu turun kembali ke bawah. Tidak lama setelah itu lampu dinyalakan lagi dan beberapa detik kemudian arus listrik diberikan. Tikus itu melompat-lompat dan secara tidak sengaja ia berpijak pada papan kayu itu. Ia terhindar lagi dari rasa sakit. Lampu merah dimatikan dan arus listrik dihentikan.
Tikus itu akan cepat sekali belajar menghindar dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Setelah beberapa kali percobaan seperti ini bila kemudian lampu merah dinyalakan, sebelum aliran listrik diberikan ia sudah cepat-cepat melompat ke papan kayu.
Seperti itu juga, pengalaman yang menyakitkan dalam hubungan pernikahan akan menyebabkan seorang mudah sekali tergoda untuk melarikan diri dari hubungan itu. Memang bila seorang pria (ataupun wanita) lari dari hubungan yang benar dan menjalin hubungan yang berdosa, ia melanggar kehendak Allah. Ia pasti akan mengalami akibat yang buruk dari perbuatan dosanya.
Seorang yang masih teguh imannya akan menghindari hubungan yang berdosa itu karena ia tahu rasa bersalah yang besar akan dialaminya walaupun mungkin dorongan dan tarikan kearah itu besar sekali. Dorongan timbul karena rasa sakit dalam hubungannya dengan pasangannya dan tarikan ada karena rasa nikmat dalam hubungan affairnya. Ia tahu bahwa ia akan berhadapan dengan Bapa Sorgawinya yang tidak akan memperkenan perbuatannya. Seperti telah dibahas di atas, Allah yang mengasihinya tidak akan “berpaling kepada persembahannya.” Doa-doanya akan terhalang dan bahkan bila perlu Allah akan menghajarnya. Ia tahu konsekuensi perbuatannya akan pahit sekali kelak.
Rasa bersalah dan rasa takut akan Allah tidak akan begitu besar pada seorang yang kurang dewasa imannya hingga ia lebih mudah terlibat dalam hubungan yang berdosa itu. Remnya “blong.” Rem yang seharusnya menghalanginya berbuat dosa kurang “pakem” (kurang kuat) bila ia tidak bertuhankan Kristus dan Roh Kudus tidak ada dalam hidupnya.
Seorang suami Kristen yang terlibat dalam sebuah affair, seharusnya tahu ia terlibat dalam hubungan yang berdosa dan sadar akan perbuatannya yang tidak benar itu. Ia tahu bahwa ia sedang hidup dalam dosa dan kegelapan. Bila seorang bertanya kepadanya mengapa hal itu dilakukannya, jawabannya mungkin di luar dugaan kita. Orang banyak mungkin mengira bahwa “Memang dia orang brengsek. Overseks barangkali.” Memang ada banyak orang yang mempunyai dorongan seks yang menggebu-gebu yang menyebabkan mereka nyeleweng. Ada juga orang-orang yang mempunyai pandangan yang salah (misbelief, lihat buku “Mengatasi Masalah Hidup,” pasal IX) seperti: “Rugi hanya menikmati seorang perempuan seumur hidup.” Orang yang mempunyai misbelief seperti ini tidak akan pernah puas dengan seorang isteri saja.
Tetapi ada juga suami-suami yang tulus--tidak mempunyai masalah dalam seksualitasnya dan juga tidak mempunyai misbelief seperti di atas--yang nyeleweng. Bila ditanya, mereka menjawab: “Isteri saya sudah tidak mengerti saya lagi,” atau “Isteri saya sangat pencemburu, saya tersiksa dengan tuduhannya nyeleweng terus menerus. Ini sudah berjalan lima belas tahun,” ataupun “Isteri saya selalu menghina dan membuat saya terus stres. Ia selalu berteriak-teriak menuntut uang lebih banyak lagi. Saya sudah bekerja semaksimal saya tetapi masih dirasanya kurang juga. Hubungan kami sangat menyakitkan. Saya tidak tahan lagi hidup dengannya.”
Kadang-kadang kita melihat suatu hal yang terasa “janggal” seperti ini: seorang suami mempunyai seorang isteri yang cantik, mungil, langsing seperti seorang bintang film sedangkan isteri mudanya jauh lebih tua dari isteri tuanya, lebih gemuk, lebih jelek. Orang-orang yang tidak mengerti akan mengatakan, “Bodohnya bapak itu. Punya isteri seperti bintang film ditinggalkan untuk isteri muda jelek seperti itu!” Mungkin sukar dimengerti tetapi pasti ada dinamika yang menyebabkannya masuk akal. Mungkin seperti ini:
Bila ada seekor anjing pudel Perancis (French poodle) yang bulunya digunting indah sekali, dimandikan dengan sabun wangi, dikeringkan dengan handuk, diberi minyak wangi dan pita merah, tetapi tiap kali kita ingin membelainya tangan kita digigitnya, apakah kita ingin membelai-belai anjing itu? Tentunya tidak. Sebaliknya bila ada seekor anjing kampung yang kulitnya banyak lukanya, kurus kering dan tulang iganya kelihatan menonjol, tetapi bila kita membelainya ia kegirangan dan ekornya dikibas-kibaskan; bila kita beri ia makan ia girang sekali dan menunjukkan terima kasihnya dengan melonjak-lonjak. Anjing mana yang akan kita belai-belai? Tentunya bukan si anjing pudel Perancis.
Ilustrasi seperti ini dapat menerangkan hal yang kelihatannya saja tidak masuk di akal seperti di atas. Tentunya walaupun ada dinamika yang menyebabkan perbuatan itu masuk akal, firman Allah tidak dapat membenarkan perbuatan itu. Orang itu tetap hidup dalam dosa dan dosa tidak mungkin diperkenan Allah.
Mengetahui bahwa ibu itu seorang Kristen yang sudah lama dan seharusnya sudah mengenal Firman Allah, penulis kemudian menanyakan padanya demikian, “Kira-kira Firman Allah mana yang ibu langgar dalam situasi ini?”
Ia menjawab, “Barangkali Efesus 5?”
“Ya, Efesus 5:22 yang berkata ‘Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan’ ”
“Apakah saya harus tunduk kepada suami saya yang lemah sekali itu seperti saya tunduk kepada Kristus?”
“Ya, memang itulah kehendak Allah, bukan kata-kata atau perintah saya.”
Bila rasa sakit itu menjadi terlalu besar pada orang beriman atau orang yang sudah bertekad untuk tidak nyeleweng, ia mungkin akan “keluar” dari rumahnya. Firman Allah telah memperingatkan hal seperti itu juga. Firman Allah telah memprediksi hal apa yang akan terjadi. Dalam Amsal 21:9, 19 dikatakan:
Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.
Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.
Pada zaman Alkitab, rumah-rumah di Israel mempunyai atap yang datar. Tinggal di dalam rumah pada pagi hari masih nyaman karena belum terlalu panas, tetapi pada siang dan sore tidak tertahankan karena tentunya pada waktu itu belum ada AC. Pada sore hari, walau matahari sudah mulai menurun, udara dalam rumah masih sangat panas hingga orang-orang naik ke atas atap yang datar itu untuk “cari angin.”
Ayat 9 mengatakan bahwa bagi seorang suami lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam dalam rumah dengan isteri yang suka bertengkar. Dalam ayat 19 malah dikatakan bagi suami itu lebih baik tinggal di padang gurun yang kering, gersang dan panas daripada tinggal dengan isterinya yang pemarah dan suka bertengkar.
Tentunya di bumi Indonesia yang subur ini sukar mencari padang gurun untuk “melarikan diri.” Karena rumah-rumah kita mempunyai atap segitiga, sukar juga bagi para suami untuk bertengger di atasnya. Tetapi peringatan dan prediksi firman Allah akan tetap berlaku dan akan digenapi. Para suami mungkin akan melarikan diri di kantor mereka atau di klub-klub dan di bar-bar ataupun di rumah-rumah “pacar” mereka.
Banyak pria di kota-kota besar seperti Jakarta menjadi “workaholic,” seorang pecandu kerja. Mereka bekerja “gila-gilaan” tanpa mengenal waktu. Ada yang berangkat ke kantor pukul 7.00 pagi dan belum pulang pukul 7.00 malam. Dua belas jam kerja. Ada yang baru pulang pukul 10.00 malam atau lebih, lima belas jam bekerja tiap harinya! Memang ada pria-pria yang menjadikan Mamon (uang) sebagai tuhan mereka, tetapi ada banyak yang menjadi pecandu kerja seperti itu karena tidak tahan akan situasi rumah tangga mereka, karena banyaknya masalah dalam pernikahan atau keluarga mereka.
Misalkan ada seorang pegawai di suatu kantor, seorang suami yang mempunyai isteri yang pemarah atau sering mengajak bertengkar. Ia menjadi pecandu kerja. Setelah kantornya tutup pukul lima sore, ia akan meminta kepada atasannya untuk kerja lembur karena kalau pulang ke rumah “akan diajak bertengkar oleh isteri.” Atasannya memberi pekerjaan untuk mengetik atau memasukkan data-data penting di komputer sampai pukul 9.00 atau 10.00 malam. Ia pulang ke rumah dan hanya tinggal mandi, makan malam, nonton TV sebentar dan langsung tidur. Demikian dilakukannya esok dan seterusnya untuk menghindari pertengkaran di rumah.
Pada suatu hari misalnya, ada pesta di kantornya. Pesta selesai pukul 3.00 siang dan kantor tutup untuk hari itu. Pegawai-pegawai lain langsung pulang. Seharusnya ia juga pulang. Tetapi untuk menghindari isteri yang pemarah di rumah, ia meminta pekerjaan pada atasannya. Atasannya menjawab, “Hari ini pesta di kantor. Tidak ada kerja lembur. Yang lain pulang, anda juga pulang.” Kata karyawan itu di hatinya, “Yah, masih pagi. Pulang sekarang pasti akan bertengkar lagi di rumah, pasti akan diomeli lagi oleh isteri.” Dengan motornya ia berputar-putar di pertokoan. Lama berkeliling ia menjadi haus dan di pinggir jalan tidak ada yang menjual minuman dingin.
Ia kemudian melihat sebuah bar. “Orang Kristen tidak boleh minum-minum di bar,” hati nuraninya mengingatkan. “Tetapi saya tidak minum minuman keras, saya hanya pesan coca cola saja, masa tidak boleh.” Akhirnya ia masuk dan memesan segelas coca cola. Sang pelayan wanita datang membawa minuman pesanannya. Karena bar masih kosong, hari masih sore dan belum banyak langganan datang, sang pelayan menemani si suami ini ngobrol. Mereka berbicara dan bercanda.
Tiba-tiba timbul dalam pikiran si suami, “Enak juga berbicara dengan wanita muda ini. Omongan kita nyambung. Lain sekali dengan yang di rumah. Di rumah sudah nggak nyambung. Saya baru bicara satu kalimat saja, dia sudah masuk sepuluh kalimat. Kata-katanya kasar pula. Di sini kata-katanya baik.”
“Di rumah saya sudah di lecehkan. Kalau saya bicara malah diledek. Di sini kalau saya bicara, ia selalu memperhatikan dengan matanya yang gede, bikin gemes.”
“Bila saya cerita lucu ia tertawa renyah atau senyum manis. Lain dengan yang di rumah, kalau saya ajak bercanda dan bercerita lucu, ia cemberut saja. Betapa bahagianya kalau yang di depan ini menggantikan yang di rumah.”
Pria seperti di atas dikatakan “vulnerable,” rentan, mudah tergoda dan jatuh. Seperti dibahas dengan percobaan tikus di atas, secara psikologis seorang akan cenderung menghindari pengalaman-pengalaman yang menyakitkan dan menginginkan lagi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.
Suami di atas akan mengingat pengalamannya yang menyenangkan dengan si pelayan di bar itu. Bila suatu saat situasi di rumah sudah tidak tertahankan lagi, atau ia sedang “iseng,” ia akan pergi ke bar tadi atau menghubungi si pelayan untuk bertemu dan berkencan. Bila si pelayan memang sedang mencari situasi yang lebih mantap dalam hidupnya dan memang juga tertarik kepada suami itu, hubungan mereka akan terjalin.
Suami yang rentan seperti ini digambarkan bagai seorang yang sedang mempunyai luka yang pedih. Ia membutuhkan seorang yang mau memberinya salep yang menyejukkan dan menyembuhkan. Tetapi apa yang didapatnya bila ia pergi kepada isterinya? Isterinya malah mengucurinya dengan jeruk nipis yang menyebabkan lukanya lebih pedih lagi. Dalam keadaan seperti itu suami ini akan mudah jatuh kepada seorang wanita yang mau memberinya salep itu. Memang berbahagialah seorang suami bila isterinya mau memberinya salep bila ia membutuhkannya.
Ibu Tulus kemudian bertanya kepada penulis, “Kalau sudah begini, bagaimana pak pendeta?”
Penulis balik bertanya, ”Kalau sudah begini bagaimana? Apa maunya ibu?”
“Saya ingin suami saya balik, meninggalkan isteri mudanya dan pulang kepada saya dan anak-anak.”
“Sungguh-sungguh? Misalkan seluruh komisi wanita di gereja mau berdoa dan berpuasa bagi ibu agar suami bertobat dan Roh Kudus mendengarkan doa para wanita itu. Misalkan Roh Kudus bersedia mengembalikan suami ibu tetapi dengan satu syarat: Ibu tunduk kepada suami seperti dalam Efesus 5:22.”
“Bagi Roh Kudus ada 1001 cara yang dapat dilakukan-Nya untuk mengembalikan suami ibu. Mungkin ayah dari si isteri muda jatuh sakit parah di NTT, isteri muda itu pulang membawa anaknya dan tidak kembali ke Jakarta. Atau isteri muda itu bertemu seorang pemuda yang mencintainya dan menikahinya. Mungkin isteri muda itu sakit dan kemudian meninggal. Bapak kemudian bertobat, dan sesuai dengan Firman Allah, ia diampuni, dikuduskan putih bersih seperti salju dari ujung rambut sampai telapak kakinya, dan dilupakan Allah dosanya. Bapak kemudian pulang ke rumah dengan seorang anak kecil.
Bagaimana bila Roh Kudus siap melakukan hal itu, hanya saja dengan satu syarat: ibu sudah berubah. Ibu tidak lagi suka melecehkan dan memaki suami dan ibu tunduk kepadanya seperti Efesus 5:22. Ibu menghormatinya seperti janji nikah ibu dahulu. Bila Roh Kudus menantang ibu, apakah ibu sudah dapat berubah dalam satu bulan ini agar Roh Kudus dapat membawa suami balik?”
Ibu Tulus cepat menjawab, “Belum bisa pak pendeta. Berubah kan sulit.”
“Bagaimana kalau tiga bulan?”
“Mungkin belum bisa juga. Saya memangnya galak seperti ini sejak kanak-kanak. Bahkan abang-abang saya pun tidak berani pada saya. Saya maki-maki kalau mereka berani pada saya.”
“Kalau enam bulan?” Ibu Tulus terdiam, tidak menjawab.
Sungguh berbahagia seorang suami bila isterinya mau tunduk kepadanya, bila isterinya adalah seorang yang sabar dan memiliki ketenangan yang dalam, bila isterinya dapat menyediakan baginya sebuah rumah tangga yang sejuk dan menyenangkan, tidak panas dan penuh pertengkaran. Ia akan kerasan tinggal di rumah, gairah kerjanya di kantor akan meningkat. Ia akan lebih kreatif dan pada waktunya ingin cepat pulang kepada isteri yang mengasihinya. Ia akan menjadi suami yang jauh lebih menyenangkan.
Kita melihat bahwa Allah sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan lembaga keluarga yang diciptakan-Nya. Ia memberi kepada kita peringatan-peringatan yang tidak boleh kita langgar. Kita akan banyak menderita bila kita melanggar kehendak-Nya.
Tentunya ada banyak lagi kehendak Allah bagi suami dan isteri yang bila dilanggar merupakan tindakan berdosa dan akan menimbulkan konflik dan penderitaan. Ada banyak tanggung jawab yang harus dilakukan yang bila tidak dilakukan akan menyebabkan hubungan yang bermasalah. Contohnya misalnya: malas, tidak mau bekerja mencari nafkah atau tidak mau mengusahakan kebersihan rumah, tidak peduli terhadap kesejahteraan anak, memboroskan keuangan keluarga, mempunyai kebiasaan buruk seperti berjudi, mabuk dan memakai obat bius, main perempuan (atau lelaki), cemburu dan curiga terus menerus, mendendam dan tidak mau mengampuni. Tingkah laku berdosa seperti ini tentu saja akan merusak lembaga keluarga yang diciptakan Allah.


II. HARGA PERNIKAHAN HARMONIS

Sering anggota jemaat bertanya tentang pernikahan yang bahagia atau harmonis. Mereka bertanya tentang bagaimana mempertahankan cinta mereka terhadap pasangan. Keluhannya adalah dengan berjalannya waktu, cinta mereka berkurang dan bahkan hilang. Memang ketika sedang berpacaran ataupun baru menikah, rasanya cinta kepada pasangan menggebu-gebu. Baru saling remas tangan saja “stroom”nya sudah tinggi. Setelah menikah “stroom” itu mulai menurun. Lima tahun menikah sudah menurun banyak. Sepuluh tahun lebih banyak lagi. Lima belas dan duapuluh tahun rasanya sudah tidak ada gairah lagi. Yang tinggal adalah rasa bosan dan kejenuhan. Sekarang sudah melihat segalanya dan melakukan segalanya dan tidak ada “stroom” lagi. Rasanya cinta sudah pudar ...
Pertanyaannya adalah: cinta macam apakah itu yang akan pudar dengan berjalannya waktu? Inilah contoh cinta eros yang telah kita bahas. Inilah cinta yang banyak dinyanyikan di radio dan TV. Inilah “cinta monyet” atau “puppy love” (cinta anak anjing). Cinta ini indah tetapi tidak akan mampu menopang suatu pernikahan dan keluarga. Tentunya cinta ini juga kita usahakan untuk tidak hilang sama sekali seperti kita sudah bahas dalam pasal VI.
Selain adanya kasih eros yang secara alami akan memudar, pernikahan yang bahagia ditandai dengan kasih agape. Kasih inilah yang harus selalu tumbuh dalam suatu pernikahan. Dengan berjalannya waktu, pasangan suami-isteri menjadi lebih dewasa dan matang dalam iman mereka. Juga kasih agape mereka akan menjadi matang dan dewasa.
Contoh kasih agape yang dinyatakan dalam tindakan kasih yang nyata tampak pada perumpamaan “Orang Samaria yang Murah Hati” dalam Lukas 10:30-35.
Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Tampak dalam perumpamaan ini tindakan kasih orang Samaria itu. Ketika si iman dan orang Lewi dihadapkan pada orang sebangsanya yang sedang celaka, mereka tidak mengulurkan tangan untuk menolongnya. Mungkin ada alasan yang cukup kuat dan masuk akal mengapa mereka tidak menolong orang yang celaka tersebut.
Hambatan Pertama: alasan keselamatan. Tempat orang yang dirampok itu mungkin adalah tempat yang rawan. Si imam dan orang Lewi mungkin berpikir: “Bila saya berlama-lama menolong orang itu, para perampok mungkin akan keluar dari persembunyian mereka dan merampok serta memukuli saya. Resiko untuk menolong orang Yahudi itu terlalu besar. Nanti pasti ada satu rombongan orang lain yang lewat jalan ini. Biarlah mereka itu yang menolongnya. Lebih aman dan lebih mudah”
Hambatan Kedua: alasan religius. Pada masa itu bait Allah tempat mereka berbakti hanya ada satu saja di Yerusalem, sedangkan para imam dan orang Lewi ada banyak sekali. Kesempatan seorang imam atau seorang Lewi untuk melayani di Bait Allah sedikit sekali. Mungkin saja seorang Lewi atau imam hanya boleh melayani, misalkan setahun sekali saja.
Bila mereka menolong orang yang celaka itu, mereka membutuhkan paling sedikit satu malam. Bagaimana bila mereka terlambat sampai di Yerusalem? Mereka akan kehilangan kesempatan untuk melayani di Bait Allah selama satu tahun. Tempat mereka akan digantikan oleh orang lain dan mereka akan rugi besar.
Hambatan Ketiga: juga alasan religius. Ada peraturan dalam Alkitab tentang penyucian orang yang najis karena menyentuh mayat yang harus dilakukan selama tujuh hari dalam Bil. 19:11, 12
Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya. Ia harus menghapus dosa dari dirinya dengan air itu pada hari yang ketiga, dan pada hari yang ketujuh ia tahir. Tetapi jika pada hari yang ketiga ia tidak menghapus dosa dari dirinya, maka tidaklah ia tahir pada hari yang ketujuh.
Memang pada saat itu orang Yahudi yang dirampok itu masih setengah mati, tetapi apa yang terjadi bila sementara dirawat ia mati. Tentunya si imam atau orang Lewi itu akan najis selama tujuh hari. Mereka tidak akan diperkenan untuk melayani Allah di Bait Suci.
Hambatan Keempat: harga pengurbanan. Terlalu mahal harga untuk menolong orang yang celaka itu.
Sama seperti itu juga si orang Samaria mempunyai paling tidak 4 alasan mengapa ia seharusnya tidak menolong orang Yahudi tersebut.
Hambatan Pertama: juga alasan keselamatan. Orang Samaria ini juga harus mengambil resiko untuk dirampok bila ia ingin menolong orang yang celaka itu.
Hambatan Kedua: kerugian finansiil. Untuk menolong orang yang celaka itu, mungkin si orang Samaria harus menderita kerugian. Mungkin ia seorang pengusaha (ia tidak dapat berlama-lama di tempat penginapan untuk merawat si sakit). Dengan menolong orang itu ia akan kehilangan satu hari yang mungkin merugikan bisnisnya (tidak dapat memenuhi janji bisnis?).
Hambatan Ketiga: pengurbanan. Ia juga harus berkurban besar untuk menolong orang Yahudi itu. Pertama ia harus membersihkan luka-luka si sakit dengan minyak dan anggur, kemudian membalut luka-lukanya. Setelah itu ia menaikkan si sakit ke atas keledainya, menjaganya agar tidak jatuh sedangkan ia sendiri harus berjalan kaki selama beberapa kilometer sampai mereka mendapatkan sebuah rumah penginapan.
Tentunya pada waktu itu belum ada rumah sakit. Ia harus merawat sendiri si sakit. Tengah malam jika si sakit mengerang atau haus atau lapar ia harus merawatnya. Malam itu tidurnya mungkin tidak lelap. Pagi hari setelah keadaan si sakit tidak kritis lagi dan karena urusan bisnisnya, si orang Samaria barulah dapat meninggalkan penginapan itu.
Ia juga harus membayar ongkos penginapan, perawatan dan belanja untuk si sakit serta menjanjikan akan kembali ke penginapan itu untuk membayar kekurangan ongkos perawatan. Memang untuk menolong si sakit secara tuntas, pengurbanannya besar yang menyebabkan si imam dan orang Lewi tidak mau melakukannya.
Hambatan Keempat: suku musuh. Ternyata orang yang hendak ditolongnya dari suku yang memusuhi bangsanya. Orang Yahudi menganggap hina orang Samaria. Mereka dianggap sudah tidak murni lagi keturunan Abraham. Pengurbanan yang dilakukan si orang Samaria adalah pengurbanan kepada musuh.
Dengan perumpamaan ini Kristus menunjukkan contoh kasih agape yang memerlukan pengorbanan yang besar. Si orang Samaria itu harus mengalahkan keempat hambatan itu untuk bisa menolong si Yahudi.
Berbeda dengan eros yang dilandasi oleh emosi, kasih agape yang matang dilandasi oleh kehendak (will). Seorang harus mengatakan “Aku menghendaki untuk mengasihi. aku menghendaki untuk menolong.”
Berbeda dengan eros yang sering dilakukan dengan menggebu-gebu, kasih agape yang matang ini dilakukan dengan kepala dingin. Kasih ini mempertimbangkan segala harganya dan walaupun harganya mahal, mengambil keputusan untuk membayar harga tersebut.
Dalam Wahyu 2:4 Jemaat di Efesus dicela karena telah meninggalkan kasih mula-mula (first love) mereka kepada Allah:
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Namun perlu diperhatikan resep yang diberikan Allah dalam ayat 5:
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Di sini kita, para pendeta, sering salah. Kita menganjurkan jemaat untuk kembali kepada kasih mula-mula itu. Hal ini ternyata tidaklah mungkin dan kita menyebabkan frustrasi pada jemaat. Kita sendiri juga tidak mampu mengembalikan kasih yang mula-mula itu dalam diri kita.
Memang kehendak Allah tidaklah demikian. Kita diminta untuk melakukan lagi “apa yang semula engkau lakukan.” Yang diperintahkan kepada kita adalah bertindak, melakukan lagi apa yang dulu kita lakukan ketika kita masih merasakan kasih yang semula. Ini yang dapat dan harus kita lakukan. Dan ternyata banyak orang Kristen yang dewasa telah melakukan jauh lebih banyak dari apa yang mereka lakukan pada waktu mereka masih merasakan kasih mula-mula itu. Seperti si orang Samaria.
Kristus juga melakukan tindakan kasih yang nyata dan luar biasa di taman Getsemani (Lukas 22:41-44):
Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Ini adalah contoh kasih agape yang luar biasa. Kasih ini kasih dewasa dan matang. Hanya seorang yang telah dewasa dan matang yang mau dan mampu membayar harga mengasihi seperti ini.
Kasih ini tidak berlandaskan emosi. Yesus tidak bersiul-siul menghadapi salib. Dikatakan bahwa ia “sangat ketakutan.” Kecemasan yang dirasakan-Nya sangat tinggi hingga “peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.”
Kasih ini memperhitungkan harganya dan dengan kesadaran dan kepala dingin mengambil keputusan untuk membayar harga tersebut. Dari keinginan-Nya sendiri Kristus tidak menghendaki meminum cawan penderitaan itu tetapi karena kasih-Nya kepada manusia, untuk menyelamatkan manusia, Ia memutuskan untuk menyelaraskan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa-Nya dan naik ke salib. Itu adalah contoh agape yang paling puncak.
Jadi kasih agape antara suami-isteri adalah kasih yang didasarkan pada kehendak, bukan perasaan/emosi. Kasih ini menghitung harga pengurbanan yang besar dan mengambil keputusan untuk membayar harga pengurbanan itu. Kasih seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang telah matang dan dewasa dalam kepribadian dan kerohanian, bukan mereka yang masih kekanak-kanakan.
Seorang bapak dan suami adalah seorang pegawai negeri yang tidak terlalu tinggi jabatannya. Ia pulang pergi ke kantornya dengan menggunakan sepeda motor.
Pada suatu pagi pukul enam, seperti biasanya ia bangun untuk bekerja, tetapi hujan turun deras sekali. Ia mulai segan bangun, “Selimutnya masih hangat, air mandinya dingin dan nafsu makannya belum ada untuk sarapan. Enaknya tetap tidur saja.” Tetapi karena ia tahu bahwa isteri dan anaknya membutuhkannya untuk bangun dan bekerja, ia bangun, mandi dan sarapan juga, walau dengan ogah-ogahan. Setelah itu ia mendorong sepeda motornya keluar, melihat hujan masih rintik-rintik. Ia menggerutu, “Wah hujannya masih lama nih,” tetapi tetap memakai baju hujannya dan naik motornya ke kantor.
Bagaimana tindakan bapak ini? Apakah ia mengasihi keluarganya? Tentu saja. Ini adalah contoh pengurbanan Agape: melakukan yang harus dilakukan walau harganya mahal.
Seorang isteri yang mempunyai Cinderella Complex, mungkin tidak bisa menerima tindakan suami yang menggerutu. “Kalau sungguh cinta tidak perlu menggerutu. Kalau ada menggerutunya bukan cinta. Cinta harus dilakukan dengan senang hati.” Ini tentunya tidak tepat.
Bila suami itu seorang yang kurang dewasa dan kurang bertanggung jawab, ia mungkin terus menutupi kepalanya dengan selimut setelah mengetahui di luar hujan deras. Mendekati jam kerja kantor ia berkata kepada isterinya, “Tolong telepon boss. Katakan kepada boss bahwa suamimu sedang meriang. Tidak bisa masuk kantor hari ini.”
Anak seorang ibu terkena demam berdarah. Ia segera dibawa ke rumah sakit. Ketika ibu ini hendak pulang, jururawat di rumah sakit melarangnya pulang. Anaknya harus dijaga malam itu di bangsal rumah sakit dimana banyak anak lain yang juga terkena demam berdarah. Tentunya tidak enak menjaga anak di rumah sakit semalaman. Ibu itu hanya bisa tidur dengan kepala diletakkan di tempat tidur anaknya. Nyamuk banyak dan udara panas.
Penjagaan ini dilakukan selama tiga malam sampai masa kritis anak itu lewat. Pada hari ketiga itu ibu itu merasa lelah sekali. Ia menggerutu, “Lelah sekali jaga malam seperti ini. Rasanya saya mau sakit flu.”
Apakah ibu ini melakukan tindakan agape? Tentu saja. Ini adalah tindakan agape walaupun ada gerutu keluar dari mulutnya. Memang jauh lebih enak tidur di rumah di kamar yang ber-AC, di kasur spring bed yang empuk dan tanpa gangguan nyamuk. Tetapi karena cintanya kepada anaknya yang sedang sakit parah, ia rela melakukan pengorbanan itu.

Ketika seorang bertanya kepada saya tentang apa rahasianya mempunyai pernikahan yang harmonis, saya menjawab sebagai berikut:
1. Tambah banyak suami dan isteri melakukan tindakan-tindakan kasih, tambah bahagia dan tambah harmonis hubungan mereka.
2. Tetapi begitu mereka tidak mau melakukan tindakan-tindakan kasih, hubungan mereka akan mengalami stagnasi (macet, mandeg) dan mulai merosot kebahagiaannya.
3. Sebaliknya tambah banyak mereka melakukan tindakan-tindakan kebencian (memaki, memukul, melecehkan, dll.) hubungan mereka akan merosot cepat.
Prinsip di atas berlaku untuk semua pasangan: pasangan muda, pasangan menengah dan pasangan yang sudah tua juga. Jadi, ingin memiliki hubungan yang harmonis dan berbahagia? Lakukanlah sebanyak-banyaknya tindakan kasih. Prinsip ini tidak ada jalan pintasnya.

Walaupun sepasang suami-isteri telah menikah dengan berbahagia selama empat puluh tahun dan mereka sudah menjadi kakek-nenek, begitu mereka mulai melanggar prinsip di atas, hubungan mereka akan mulai merosot. Begitu mereka mulai melakukan tindakan-tindakan kebencian begitu mulai menyakitkan hubungan mereka.
Seorang juga tidak dapat berpikir: Asal saya aktif dalam pelayanan, menjadi singer atau pemimpin pujian di gereja, pasti pernikahan saya bahagia. Ini tidak benar, sebab begitu ia dan pasangannya mulai melanggar prinsip di atas, mulai merosot juga hubungan mereka.
Tidak benar juga berpikir: “Kalau saya jadi pendeta pasti pernikahan saya berbahagia,” atau “Kalau saya menikah dengan seorang pendeta, saya akan berbahagia.” Ternyata banyak pendeta yang tidak berbahagia dalam pernikahan mereka.
Mengapa masa berpacaran, terasa berbahagia sekali? Karena ada banyak tindakan kasih antara sepasang muda mudi itu.
“Kamu ke kampus pukul berapa besok?
“Wah, pagi sekali. Sebelum kuliah kami akan rapat senat dulu. Jam enam saya sudah harus berangkat dari rumah.”
“Tunggu di rumah ya, nanti saya antar ke kampus.” Jam 5.30 pagi si pemuda sudah menunggu untuk mengantarkan gadisnya ke kampus.
“Nanti pulang jam berapa dari kampus?”
“Wah, nanti malam ada praktek di laboratorium. Bisa-bisa pulang jam 8.00 malam.”
“Jangan pulang sendiri. Tidak aman bagi seorang wanita pulang malam sendirian di Jakarta.” Pukul 7.30 si pemuda sudah menunggu di kampus.
“Haus ya, mau kopi atau teh, atau dibelikan coca cola ya?”
Tidak heran masa berpacaran adalah masa bahagia. Keduanya banyak melakukan tindakan kasih. Sayangnya begitu hubungan mereka diberkati di gereja begitu mereka melanggar prinsip di atas mengenai hubungan yang harmonis dan berbahagia.
Masing-masing mulai berpikir: “Nggak usah ya. Sekarang tidak perlu berbuat seperti dulu lagi. Toh dia sudah milikku.” Ini adalah kesalahan besar banyak suami-isteri. Begitu menikah mereka langsung melanggar prinsip di atas yang dulu sudah mereka lakukan secara trampil dan ahli. Mereka mulai kehilangan keharmonisan dalam hubungan mereka.
“Penjual roti tadi tidak mampir. Tolong belikan roti di toko untuk anak-anak.”
“Panas ah, ogah,” walaupun toko roti hanya satu blok dari rumah.
“Besok anak-anak tidak ada roti untuk sekolah.”
“Kasih saja uang, biar jajan di sekolah.”
Dulu ketika berpacaran sang pemuda bolak-balik tiga atau empat kali seminggu dari Bekasi ke Jakarta Barat. Setelah menikah, ogah untuk berjalan satu blok saja dari rumah. Bagaimana suami ini—dan banyak suami-isteri lain—mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan bila ia tidak mau tetap membayar harga keharmonisan itu dengan tindakan agape? Mustahil!
Suatu saat saya membimbing sebuah kelompok kecil yang terdiri dari tujuh pasang suami-isteri, jadi dengan saya sendiri kami berlima belas. Kami bertemu selama dua belas minggu, seminggu sekali di rumah salah seorang anggota kelompok. Tujuan pertemuan hanya satu: bagaimana mempunyai pernikahan yang bahagia.
Dalam pertemuan-pertemuan itu saya memberikan masukkan yang kemudian dibahas bersama, ada tanya jawab dan diskusi kasus dalam kelompok kecil, ada role playing, dll. Tiap kali sebelum suatu pertemuan berakhir saya memberi suami-isteri itu suatu pekerjaan rumah (PR), yaitu suatu tindakan kasih yang harus dilakukan suami dan isteri paling tidak selama seminggu, kalau bisa sepanjang pernikahan mereka.
Saya katakan kepada peserta kelompok bahwa minggu depan saya akan mengecek apakah PR mereka sudah dilakukan. Pada pertemuan berikutnya saya sungguh-sungguh mengeceknya.
Saya dapatkan bahwa suami-isteri yang sungguh-sungguh melakukan PR yang diberikan, hubungan mereka menjadi lebih baik dan mulai meningkat. Sebaliknya ada juga suami-isteri yang tidak bersungguh-sungguh melakukan PR mereka. Hubungan mereka tetap mandeg.

Pada suatu pertemuan saya mengadakan kegiatan seperti ini: Kami membuat dua buah lingkaran dari kursi-kursi, satu besar dan satu kecil di dalamnya. Mula-mula para isteri duduk di kursi-kursi di lingkaran dalam dikelilingi para suami. Para isteri saya minta untuk meneruskan kalimat ini: “Saya merasa dicintai bila …”
Mula-mula para isteri itu ragu-ragu karena ada suami-suami mereka disana tetapi tambah lama mereka tambah berani. Tiap isteri paling sedikit menjawab satu kali. Tentunya ada banyak tertawa. Saya berkata kepada para suami untuk memperhatikan kata-kata para isteri tentang apa yang menyebabkan mereka merasa dikasihi, tetapi terutama kata-kata isteri mereka.
Setelah itu situasi dibalik dengan para suami duduk di kursi di lingkaran dalam dan para isteri di kursi luar. Kemudian saya minta para suami itu untuk menyelesaikan kalimat yang sama: “Saya merasa dicintai bila …” Ketawa lebih banyak lagi. Setiap jawaban suami-isteri itu saya catat.
Sebelum pertemuan itu berakhir, masing-masing saya beri selembar kertas dengan tulisan seperti ini:

Dengan anugerah Allah saya akan ____________________________________________________ __________________________________________________________________________________________
Tanda tangan: ___________________________

Para anggota kelompok saya minta untuk menentukan dan menuliskan sendiri PR mereka setelah mendengar apa yang dikehendaki pasangannya.
Beberapa yang mereka tulis akan saya bahas sebagai contoh konkrit tindakan kasih agar pembaca buku ini dapat melihat apa yang saya maksudkan sebagai tindakan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang suami menulis demikian:
Saya akan membantu isteri saya menyiram tanaman di rumah seminggu sekali
Komitmen seperti ini tentunya tidak berlaku untuk semua pasangan suami-isteri. Contohnya dalam keluarga kami. Saya dan isteri saya tidak mempunyai hobi tanaman. Halaman depan dan belakang rumah kami gundul saja. Tetapi mungkin isteri dari pria ini senang sekali dengan tanaman. Bukan saja halaman depan dan belakang dipenuhi tanaman hidup yang penuh dengan bunga tetapi juga dalam rumah digantung pot-pot bunga hidup. Tentunya tanaman dalam rumah itu juga harus di siram secara berkala.
Misalkan suatu petang sang isteri sudah lelah sekali dan ia duduk di sofanya. Tiba-tiba ia melihat tanaman di pot-pot bunganya mulai kering tanahnya. Daun-daun mulai layu dan menguning. Karena sudah lelah ia berkata kepada suaminya, “Tolong dong, sirami pot-pot bunga itu.” Selama ini sang suami menjawab. “Enggak ah, itu kan proyekmu. Kamu yang sirami sendiri.” Mendengar itu sang isteri hanya diam saja sambil merasa jengkel sekali.
Sang suami sudah sadar dan mengambil komitmen seperti di atas. Misalnya pada suatu petang, tanpa diminta isterinya ia mengambil air se gayung dan mulai menyiram pot-pot bunga isterinya. Melihat tindakan suaminya, sang isteri menjadi senang dan mungkin membuatkan kopi susu dan menggoreng pisang. Jadi tindakan kasih suami itu adalah menyiram tanaman isterinya yang dibalas dengan kopi susu dan pisang goreng oleh isterinya. Keduanya melakukan tindakan kasih dan hubungan mereka naik setingkat.
Seorang suami lain menulis demikian:
Saya akan berhenti memberi komentar tentang wanita cantik
Ada isteri-isteri yang bersikap, “Peduli amat, emangnya gua pikiran,” bila suami mereka memuji wanita lain. Tetapi mungkin isteri pria ini tersinggung bila suaminya memuji wanita lain seperti: “Wah, cakep juga cewek itu,” atau “Aduh sexynya,” atau “Lihat langsingnya perempuan itu,” dll.
Selama ini suami itu mungkin membanggakan diri: “Pokoknya saya mau jujur, dalamnya hitam. Luarnya harus ngomong hitam. Dalamnya putih, luarnya harus putih. Saya tidak mau bohong. Peduli amat apa kata orang.” Apakah ini Alkitabiah?
Di dalam Efesus 4:15 diajarkan kepada kita: “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih … (Speaking the truth in love—Berkata benar dalam kasih).“ Tidak diperintahkan kepada kita: Berkata benar. Tidak diajarkan hanya: “Speaking the truth” saja. Ada saringan yang dilupakan oleh suami tersebut yaitu saringan kasih. Tanpa saringan ini seorang bisa saja berbicara ceplas-ceplos, menyinggung ke sana, menyinggung ke sini.
Suami ini sadar akan kesalahannya yang suka menyinggung perasaan isterinya dan kemudian ia mengambil komitmen untuk memperbaiki dirinya. Tindakan kasih bagi suami ini adalah: plester mulutnya bila ia ingin memuji wanita lain.
Seorang isteri menulis demikian:
Saya tidak akan mengkritik ibunya lagi
Ini adalah kasus khusus. Ibu dari sang suami ternyata pernah mengalami stres yang berat yang tidak cukup rawat jalan. Ia harus dirawat selama kira-kira tiga bulan di rumah sakit jiwa, tetapi setelah itu sembuh sepenuhnya. Peristiwa ini terjadi sebelum sang suami menikah.
Tetapi sang isteri akhirnya tahu peristiwa tersebut dan menggunakan hal itu untuk “mengalahkan” suaminya bila sedang bertengkar. Memang bertambah lama kita menikah dengan pasangan kita, bertambah banyak kita mengetahui kelemahannya. Sayangnya bila kita bertengkar dengan pasangan kita, kita cenderung berbuat seperti “mites/pencet” semut, secara total ingin melumatkan lawan kita. Kita berusaha menggunakan kata-kata yang paling menyakitkan untuk menghabiskan lawan kita.
Selama ini sang isteri menggunakan kata-kata yang menyinggung rahasia keluarga suaminya, misalkan, “Mamanya edan, anaknya …” bila mendengar kata-kata seperti itu, sang suami akan meledak marahnya. Mungkin sang isteri merasa bangga bisa menang (“Jangan berani main-main dengan saya, kalah, nggak!”)
Tetapi siapa yang sebenarnya kalah? Sang suami yang disakiti hatinya seperti itu tentunya akan berusaha membalas dendam. Apakah pada malam itu ia mau bermesraan dengan isterinya? Tentunya tidak. Sepanjang malam ia hanya memberi isterinya punggungnya saja. Besok malam setelah pulang kantor, apakah ia mau segera pulang ke rumah? “Kok enak.” Sengaja ia akan pulang malam sampai pukul sepuluh atau sebelas malam main domino di rumah temannya: “Bila isteri marah-marah, ayo bertengkar lagi.”
Bila kemudian sang suami menerima “uang kejutan”—uang yang tidak disangka-sangka akan diterima, bukan gaji yang diketahui isteri berapa jumlah dan kapan akan diterimanya—apakah ia akan membaginya dengan isterinya? Misalkan ia menerima empat ratus ribu, seharusnya suami dan isteri itu masing-masing mendapat hak dua ratus ribu. “Kok enak, isteri yang menyakitkan hati diberi uang. Toh dia tidak tahu adanya uang ini.”
Tentunya dalam hal seperti itu, keduanya kalah dan hubungan mereka akan makin merosot. Ini sesuai dengan prinsip di atas: tambah banyak suami/isteri melakukan tindakan kebencian, tambah merosot hubungan mereka.
Baiknya sang isteri sudah sadar dan memutuskan untuk melakukan komitmen dengan plester mulutnya sendiri bila ingin menyinggung perasaan suaminya.
Seorang suami lain menulis:
Saya akan berkata "I love you" dengan mesra sebelum tidur kepada isteri saya
Seorang anggota jemaat memberi komentar, “Yah, pak pendeta, masa begitu. Kita kan orang Timur, masa ‘I luv yu, I luv yu-an? Kan orang Bule yang pinter romantis-romantisan: Honey, thank you, love? Malu ah, kalau harus begituan.”
Tetapi bila isteri kita membutuhkan kata-kata manis, bagaimana? Memang seorang pria, tidak membutuhkan banyak kata ‘I love you.’ Sekali-sekali bila isteri mengatakan demikian, ya enak juga, tetapi kebutuhan akan kata-kata mesra tidak terlalu besar. Seorang isteri lebih membutuhkannya.
“Yah, tapi kita kan tidak biasa, muka kita ditaruh dimana? Apalagi kalo bahasa Indonesia: ‘Aku cinta padamu’ Ih panjangnya, ngeri.”
“Bagaimana kalau diganti dengan ‘sayang,’ ‘Aku sayang padamu.’ Atau diganti dengan satu kata saja: ‘say.’ Panggil isteri minimum sehari sekali: ‘say.’”
“Ya masih gengsi juga.”
Betul, tetapi bukankah dalam Kristus kita sudah belajar menyalibkan gengsi kita juga?
Seorang isteri lain menulis:
Saya akan membangunkan suami saya tiap pagi dengan ciuman di pipi
Suaminya adalah seorang yang sangat senang nonton televisi. Kejadiannya sebelum krismon ’98, ‘99 dimana stasiun televisi bisa ada sampai pukul 3 atau 4 pagi. Tetapi suami ini biasanya tidak tidur sebelum semua stasiun tutup. Akibatnya tentunya ia susah bangun tidur pada pagi hari karena masih mengantuk.
Tetapi sang isteri tidak kira-kira bila membangunkan suaminya. Ia masuk kamar tidur, menarik selimut suaminya dengan kasar sambil berteriak, “Bangun, sudah siang!.”
Sang isteri kembali lagi ke dapur untuk masak bagi anak-anak mereka. Seperempat jam kemudian ia belum mendengar suaminya bangun dan ia menjadi tambah jengkel. Ia masuk kamar tidur, tarik lagi selimut suaminya, berteriak, “Bangun, malas” lalu keluar membanting pintu kamar tidur. Suaminya kaget dan bangun, tetapi dengan jantung berdebar-debar. Suasana hatinya (moodnya) sudah dirusak.
Apakah ia bisa civilized, bertingkah laku baik dan ramah? Tentunya tidak. Ia akan segan mengajak isterinya berbicara. Wajahnya ditekuk. Bila diajak berbicara, jawabnya hanyalah: “Hah,” “Heh,” atau “Terserah sono.”
Apakah ia mau memandang wajah isterinya di meja makan? Dengan suasana hati yang dirusak seperti itu tentunya tidak mau. “Mana KOMPASnya,” Lalu ia makan sambil membaca koran, menutupi wajah isterinya dengan koran pagi.
Sang isteri mulai sadar dan mengambil komitmen untuk melakukan tindakan kasih: “Membangunkan suaminya tiap pagi dengan ciuman di pipi. Atau tentunya kita sudah belajar dari TV untuk membangunkan suami kita dengan kopi.
“Yah pak pendeta, pak pendeta tidak tahu tiap pagi di rumah kami seperti kapal pecah. Saya harus cepat-cepat siapkan makanan. Setelah itu membangunkan kedua anak kami yang masih kecil-kecil, memandikan dan mengeringkan mereka, mengenakan pakaian sekolah pada mereka, dudukkan mereka di meja makan lalu memasukkan sebanyak-banyaknya nasi ke dalam perut mereka. Setelah itu mempersiapkan mereka untuk antar jemput ke sekolah. Masa harus membuat kopi untuk suami? Kan dia sudah gede?”
“Tetapi membuat kopi sekarang kan gampang. Sudah ada paket three in one, sudah ada kopi, krim dan gulanya. Tinggal disedu dengan air panas, diaduk lima menit sudah selesai. Lalu sementara suami masih tidur, letakkan kopi di dekat hidungnya. Agar ia bangun dengan suasana hati yang baik”
“Yah, tapi itu kan nambah kerjaan?”
“Benar sekali. Tindakan kasih berarti “nambah kerjaan.”
Inilah contoh-contoh membayar harga untuk mempunyai pernikahan yang berbahagia dan harmonis.
Setelah menikah lebih dari 11 tahun, pada suatu hari saya sedang berjalan-jalan santai dengan isteri saya di sebuah mal. Kami hanya berduaan saja. Tiba-tiba, tanpa sengaja, saya menaruh lengan saya di punggung isteri saya dan tangan saya memegang pundaknya. Apa respons isteri saya? Ia memegang tangan saya dan berkata, “Yah ini yang enak.”
Kami sudah menikah begitu lama dan saya baru tahu bahwa enak bagi isteri saya bila tangan saya melingkar di pundaknya. Setelah tahu itu sering saya sengaja, entah “in the mood” atau tidak untuk melingkarkan tangan saya di pundaknya (memang biasanya “in the mood.”)
Saya harap dengan beberapa contoh yang dijelaskan seperti di atas, pasangan-pasangan suami-isteri tahu apa yang saya maksudkan dengan tindakan kasih. Mereka kemudian dapat melakukannya sendiri dalam keunikan hubungan mereka masing-masing.

Tidak ada komentar: